j a n u a r i : yang tak tuntas (1)
Ini kali aku duduk di tempat yang beda. Sedikit lebih jauh 10 langkah dari tempat sebelumnya. Di sini, langit terlihat lebih jelas. Lebih abu dan aku dengan leluasa dapat melihat gerak dedaunan di depan maupun samping kiriku. Kibaran bendera juga, detak pasir pada genteng, dan suara manusia.
Langit tak biru, seperti dahulu. Tak putih awan. Hanya warna putih mendekati abu-abu dan abu-abu betulan yang nampak. Akan turun hujan, kayaknya. Kita pastikan sebentar ketika hujan turun atau saat langit bergemuruh.
Awan seakan berarak. Guruh langit pelan mengetuk. Aku menghitung detak waktu. Enam dari 15 sekoci telah berlayar. Mengarungi kehidupan Januari yang sesak. Aku harus kuat. MengandalkanNya adalah jalan terbaik selainnya.
PanggilanNya perlahan terdengar. Waktu kian beranjak dan langit diarak kelabu. Bagaimana cara memecah kebisuan? Bagaimana mencairkan kebekuan hati? Adakah yang lebih baik selain menerima dan mengikhlaskan segala?
Satu-satu orang bergegas meninggalkan tempat ini. Aku masih terdiam. Ada kalanya rindu adalah hal berat termasuk rasa-rasa terpendam yang tak terkuak. Mengendalikan diri adalah hal tersulit.
Padamu, aku ingin menanya banyak hal. Terlalu sering sendiri ternyata tidak meninggalkan hal baik.
Kendari, 6 Januari 2018 11.54 am
Komentar