who knows?

namun bila hari ini adalah yang terakhir,
namun ku tetap bahagia
selalu kusyukuri
begitulah adanya

*** 

jemputan itu berhenti sejenak di persimpangan. ini bukan yang pertama. sebelum ini, beberapa kali berhenti. baik itu sarapan, makan siang, santai sejenak, mengisi bensin, juga menerima tumpangan orang yang dijumpai di jalan. padahal sekarang sedang musim hujan, dan terkadang panas. atau bahkan panas, terkadang hujan. saya tidak ingin tahu lebih jauh dimana keberadaan penjemput itu. menunggu adalah keputusan terbaik tanpa banyak bertanya. cengeng. dan, tertawa. bersiaplah!

kemarin aku menemaninya membeli sebuah payung dengan motif nyaris menyerupai payung milikku (tentu dengan warna berbeda). aku diam saja ketika dia bercerita banyak hal. seperti biasa, aku tidak tertarik dengan  apa yang diceritakannya. dia selain berlebihan dalam bercerita, juga pandai menyembunyikan ekspresi. aku berjalan lebih cepat. mengamati rak-rak berisi sabun cuci piring, gelas piala, dan terakhir menuju kawanan wafer bertengger. dia mengikuti dari belakang.

sebenarnya ada banyak hal yang akan kulakukan. aku bahkan tidak berharap banyak hal darinya. aku hanya butuh sebuah meja dimana leppy-ku dapat duduk manis dan tanganku berpangku di atasnya. juga, segelas musik aneka genre di samping kanan kiriku. 

siang ini, aku membutuhkan banyak hal. aku akan mengembalikannya. tetapi, ternyata itu salah. apa yang telah diberi tidak dapat diambil. perasaan itu! shit... snipe berulang kali mengonggong sejak pagi. kipas angin tiga hari ini terus berputar menambah banyak remah rupiah yang keluar; tagihan tentu  saja mendadak bengkak. aku terlanjur kesal. hujan pun tiba-tiba datang. dua kali di waktu yang tak terlampau jauh. sementara seorang anak menggerutu kesal. ah, sudahlah!

jauh dari itu semua, di seberang kota; seorang gadis dengan rambut sebahu diam-diam menjatuhkan air mata. menanyakan banyak pertanyaan ketika gadis lainnya dengan usia 2tahun di atasnya memasuki sebuah ruangan tak jauh darinya. sebuah ruangan berisi lelaki berjas putih, juga seorang wanita berjilbab putih dengan setelan putih (juga). tiga wanita dan lelaki itu berdiskusi. lelaki itu nyaris tidak banyak berbicara. dia hanya menuliskan banyak catatan. pertanyaan-pertanyaan pun di jawab sesingkat mungkin. setelahnya, jawaban lain menunggu di apotek. wah, daebak! lusinan pertanyaan terjawabkan berlusin merk pil aneka rupa. ada yang bulat. lonjong. dengan ukuran berbeda.

isi luar ruangan nampak biasa. tak ada tangisan. hanya, sepekan kemudian sebuah tanya terungkap. ini buat siapapun yang mendengarnya gelisah.

"Bisa hidupkah dia? Panjang umurnya? Perasaanku tidak enak. Semoga dia baik-baik saja. Aku takut tidak lagi dapat melihatnya."

maka, di sudut mata bening itu perlahan waktu memberi tahu bahwasanya usapan mata saat itu bukan karena kelilipan. melainkan benar-benar tangis ketakutan.  dia takut kehilangan. who knows! takdir hidup mati seseorang bisa jadi berada di tangan dokter, selain itu Dia lah yang akan meng-ACC: menemuNya atau  mencariNya dahulu.

berpasang mata mengawasi. yang diawasi nampak biasa, tak merasa apapun. semoga dia baik-baik saja. ya, baik-baik saja. hey, kamu... apa kabar?

kini, gadis itu hidup dengan keterbatasannya. di sebuah ruang yang tidak seorang pun dapat menebak perilakunya selain berdasar pengamatan sesaat.  dia tetap seperti itu. merasa semakin berkurang waktu di bumiNya, sementara tugasnya belum purna.

temperamen yang melekat dalam dirinya sesekali muncul. ah, gadis itu penuh misteri. dia dalam diamnya, dengan dirinya. menjadikannya, pemimpi dan pemimpin yang lemah. lihatlah, dia lagi-lagi mengusap mata yang tak sembab hanya basah terkena hujan dalam mata. dia tetap diam. hingga diamnya itu menyisa tanya. 

sore ini, senja entah akan datang atau tidak. keran air terus berbunyi sepanjang hari. hatinya luka, bibirnya rapat  terkatup, jemarinya lincah menari di atas tuts keyboard andoid. laga sepakbola antar negara U-18 semakin seru. dia diam-diam juga mengamati. usianya tak lagi muda, tak tua. wajahnya tak berkeriput, belum muncul lipatan. hanya sesekali, jika kau memegang tangannya maka kau akan rasakan suhu yang senantiasa berubah. seperti dia, yang sulit kau  tebak!
__

dy a. said - seorang pembelajar
kendari, 13 september 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a