the power of husnudzan

sekolah dan kehidupan adalah dua dimensi tersendiri.
TENTANG bagaimana belajar dan menyelesaikan tugas
serta menyelesaikan tugas kemudian belajar dari itu.

in frame. Sindang Barang - Bogor, Juni 2016.


satu fase  telah terlewati. telah ditetapkanNya sesuatu untuk setiap jiwa. di tiap fase, diperlukan anak tangga sebagai pemacu dan pemicu agar terus dapat melangkah menuju puncak. kita memiliki tempat pemberhentian sendiri. di tiap pemberhentian, kita pasti memiliki cerita pula dengan orang yang sama atau berbeda. maka, jangan terburu-buru menghakimi takdir.

saya percaya. percaya pada mereka yang berada selingkup dengan saya dan saya menamakan lingkup tersebut 'keluarga'. di sana ada banyak rasa. di sana hal kecil semacam genetik adalah warisan turun temurun. mereka yang kemudian menguatkan bukan untuk melemahkan. sebab inilah takdir; menemu mereka.

bersama mereka yang bernama keluarga; di sana pembelajaran tentang kehidupan dan berpetak ruang dengan pelbagai tingkatan bernama sekolah adalah sumber kekuatan utama.

padaNya saya bersyukur. di tengah keterbatasan fisik, Dia berikan saya seseorang yang bisa saya ajak sharing. membagi kisah-kisah saya (bukan petuah; just sharing). cerita yang bahkan tidak orang tahu (thanks dear). bagaimana kursi pesakitan itu kemudian menjadi cara agar saya bergerak lebih cepat lagi. mengurangi su'udzan. mengelola kekecewaan. juga, belajar untuk lebih mawas diri (lagi). bagaimana kemudian, setelah hanya mendengar cerita-cerita saya di setiap waktu luang, akhirnya dia diperkenankan bertemu dengan orangorang yang selalu didengarnya lewat cerita. dia pun belajar banyak hal. pada dasarnya, kami memiliki karakter yang sama tetapi sedikit berbeda untuk sisi mengelola emosional. saya mengakui, bahkan dia jauh lebih baik untuk itu.


me : ikut ini itu bukan karena ikut-ikutan tetapi karena memang that's ur passion.
dy  : saya gak pernah ikut-ikutan.
me : terkadang, apa yang menurutmu baik belum tentu baik. sharing, baca buku, bedakan privasi dan rahasia umum.
dy  : ...
krik krik krik


haha... kadang kalau mentok pembahasan, kami terdiam. berpikir lalu menunggu pertanyaan selanjutnya akan diajukan oleh siapa. akhirnya, kami selalu memilih untuk membahas 'keluarga' dalam lingkup kami berdua.

si kecil yang kini nyaris bersatus mahasiswa, menunggu momen untuk kemudian dilantik menjadi mahasiswa mulai akrab dengan beberapa kawan. dia tidak neko-neko. cepat akrab (tidak seperti saya). mudah mencari topik untuk tertawa (tidak seperti saya lagi). dan dia, ya dia dengan karakter yang dimilikinya.

beberapa kali ikut dalam pertemuan dengan temanteman saya, membuatnya banyak berpikir (haha). dia mencoba berhusnudzan pun saya. memfilter informasi yang kami dengar. namun, ada satu yang kemudian membuatnya berpikir panjang dan (mungkin karena tak tahan), maka diungkapnya. 


dy : kak beneran sudah adamikah?
me: iya,
dy : betulan ni?
me: iya, di lauh mahfudz.
dy : kak.. dia akan menjadi bayanganmu lagi. percaya atau tidak, dia akan campuri urusanmu kk. kak, ko harus pergi jauh. jauh dari dia.
... tabarakallahu fii ilm. ketika si dia menjadi bercabang. si hitam dan si putih.
me: itu sudah menjadi lagu lama dek. perlahan atau pasti, kalau saya tidak menjauh ya mendekat. dan, mendekat itu kk punya tanggung jawab sendiri. memang dia akan terus jadi bayangan. kamu belum bisa kk lepas. kecuali udah semester tiga mungkin baru bisa kk lepas.

dy : ya, sudah. iya, memang sekarang belum bisa.
me: berdoa saja. makanya kk berdoa semoga dia duluan. haha, bahaya.
dy : iya. semoga.
me: doakan tahun depannah.
dy : (dengan cepatnya)... aamiin.

jika seseorang memperlombaimu atas dunia, tinggalkan saja itu baginya.
tapi jika akhirat soalnya; dahuluilah dia segera. Allah akan karuniakan dunia pada
yang dicintaNya dan bagkan bagi yang dimurkaNya. Tapi akhirat,
hanyalah untuk kekasih-kekasihNya.
-Ust. Salim A. Fillah-

persaingan tidak sehat itu telah lama berjalan. saya terlambat menyadarinya. namun, tetap membiarkannya. saya merasa percuma meladeni apa yang dilakukannya. si adik keburu parno, but itulah konsekuensi atas tiap keadaan.


dy : saya takut dia akan jadi bayanganmu. kehidupanmu bisa terancam kk.
me: iya dek. duniaji ini. semoga dia segera mendapat apa yang diimpikan. sayangnya, kk nda punya jurus seribu bayangan untuk mengelabuinya. biarkan dia seperti itu. mungkin itu caranya untuk bertahan hidup.
dy : semoga ko segera selesai, ketemu 'dia' baru terjauh dari dia.
me: sabar. mari menjemput segala hal dengan cara yang elegan.
dy : jadi kapanmi kamu mau ke kampus lagi?
... wkwkwk (pertanyaan ini, sesuatu binggo...)


akhirnya, saya memilih untuk mengejar apa yang selama ini saya tinggalkan. tetap berpikir bahwa yang tertunda adalah  kesengajaan darinya untuk diri lebih belajar lagi. lebih menghargai proses. tidak menjadi instan-ers. bagaimana upaya mengikhlaskan dan menjadi penuntut ilmu yang benar-benar ber-fastabiqul khairat fii dunia wal akhirat not fii dunya to dunya (hehe).

untuk segala jerih payah; i believe that hasil tidak pernah mengkhianati proses. sejauh apapun berproses, mimpi mimpi yang telah tersusun rapi pasti akan jadi juga.  entah benar menjadi matang atau sekadar pecah dari telur telur mimpi, itu perihal nanti.

sedari kecil,  hidup dalam dibayangi orang lain adalah hal biasa. kami saling membayangi untuk menyupport (tetapi tidak untuk satu fase ini yang nyaris genap ini).  maka, saya menanamkan apa yang telah diajarkan ibu juga guru-guru: ketika menemu seseorang yang lebih darimu, berproseslah bersamanya dengan tetap melibatkanNya. berteman baiklah. jauhi prasangka buruk, seburuk apapun dia. hargai kemampuan dirimu, be your self. dan, diamlah untuk hal yang kau tahu sebab tak semua hal yang kau tahu perlu kau ungkap. berusaha, jangan mudah cengeng.


jika A adalah KESUKSESAN HIDUP
maka
A = x + y + z

x adalah bekerja
y adalah bermain
z adalah tutup mulutmu
-albert einstein-


masih panjang perjalanan untuk menjadi baik. butuh waktu yang saaaaangat panjang untuk menamatkan bab akhlaqul karimah juga iman. semua  yang telah terjadi, jujur itu sangat pahit tetapi itulah bumbu yang harus diicip. jujur tak selalu manis, dear.

sulit menjadi seorang yang selalu  ber-husnudzan dan menjadi mudah ketika diri bersungguh untuk menjadi lebih baik lagi. ada saatnya kebenaran itu ditutupi tangisan agar tahu hidup bukan sekadar tertawa. telah diaturNya segala ujian untuk diri. sabar dan tegar adalah kunci berproses. libatkan  Dia, Dia mudahkan. sebab, tiap diri memiliki titik lemahnya tersendiri. titik jenuh pun kadang bermunculan di saat yang tidak tepat. believe, diri ini kuat. sekalipun kaki semakin melemah, masih ada harapan untuk bertumpu.

tidak perlu  jauh-jauh mengejar sesuatu. bisa jadi dia berada di dekatmu. tidak perlu lama bertindak, sebab waktu tak pernah menunggu. tidak perlu menjadi seorang yang lain, dirimu baik dengan gayamu. tidak perlu berlebihan, sederhanakanlah. tidak perlu kecewa, sabar memang tiada batasnya.

maka, berikan hati pada Sang Pemilik, jangan pada dunia (karena hadirnya hanya sebentar). bertahanlah atas segala keadaan (belajarlah dari kisah para pendahulu). tentang Ibrahim yang harus terpanggang api tetapi tubuhnya tak termakan api atau Musa dan Fir'aun. Bahkan tentang keluarga Abu Lahab juga Adam Hawa sekalipun. Masih banyak lainnya. berbahagialah atas rahasia masa depan dan kekuatan dari kesabaran. sebab Sang Maha Tahu, masih ingin menguji diri. olehnya, mari perjuangkan masa depan agar di penghujung perjalanannya, diberikanNya janjiNya. janji yang ditunaikan bukan karena hasil hitungan neraca namun kesungguhan karena berproses dan berikhtiar. husnudzan. 
diah a. said - seorang pembelajar
kendari, 14-17 Syawal 1438H | 7.43am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a