the power of husnudzan (3)

 
 "
dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami,
bukan karena orang-orangnya yang jahat
tetapi karena orang-orangnya yang tak peduli.
"
-albert einstein-








kamis pekan lalu, lepas maghrib waktu indonesia bagian Kendari, saya bersama adik menuju sebuah kompleks perumahan baru. daerah sana tergolong syepi dan guelap. mendekati isya kami tiba di sana. saya merasa ada yang aneh sejak awal kami meninggalkan asrama tempat saya berteduh selama dua tahun terakhir. ban motor saya bagian belakang kayaknya kempes deh, saya hanya bisa bergumam. berharap itu hanya perasaan seorang cewek yang lagi parno.

kompleks yang tergolong baru itu tentu belum beraspal. jalanan yang (alhamdulillah bagus karena sepanjang hari ini tidak hujan). kami mulus mengikuti lorong hingga tiba di tujuan.

me : dek, coba hubungi lagi nomor tadi.
dy  : iya, kak.

tak lama, seorang lelaki muncul (dia sedari tadi memperhatikan kami di antara kesibukan lain membantu mobil yang tandas di jalanan becek perumahan).

lk : yang punya hape ya?
me  iya. terimakasih, ya. ketemu dimana?
lk : (sambil berlalu) di depan rumahku.
me  terimakasih nah.

saya nyaris putus asa. menganggap enteng, sudahlah tak perlu mencari lagi. seharian dibuat baper dengan sms konyol nan menyebalkan. si adik maksa, ambil. ya, sudah. malam itu petualangan di mulai.

me : dek, sebentar di penurunan, turun nah.
dy  : iya.

maka, saat penurunan saya benar-benar menurunkan dia. dan, ketika dia naik belum habis gas motor, saya menurunkannya. haha... benar, ban motor gembos. itu tengah malam, jarak antara perumahan dan pusat keramaian daerah itu sungguh jauh. tak ada apa-apa. tak ada ojek. hanya kendaraan yang sesekali lewat memperhatikan kami tanpa sekalipun berpikir untuk berhenti dan bertanya, "ada apa?".

mungkinkah ini salah satu sifat anak negeri yang baru kuketahui? saya tidak habis pikir. malam-malam dengan suasana gelap (alhamdulillah cahaya bulan malam itu cukup terang sebagai penerang jalan kami), dua anak gadis jalan gelap-gelapan gak ada yang nolongin. Oh, gosh... ini bukan mimpi.

sekitar tiga puluh menitan kami (dia berlari-saya mengendari motor) bercerita ngalor ngidul untuk menghilangkan rasa takut. pos pol... kami lewati, tak ada apa-apa. kantor-kantor dengan security yang berjaga sepanjang malam pun kami tak dihiraukan (wkwk). si adik sampai ngoceh, kayaknya ini latihan pra-tes. doi lagi persiapan tes di salah satu lembaga pemerintah.  sudahlah, nikmati saja.

saya menghitung puluhan motor dan lebih dari sepuluh mobil melewati kami tentu dengan jumlah jiwa yang lebih banyak lagi. tetapi tetap semua berlalu dengan tolehan tanpa pemberhentian. 

"
Dengan kesabaran,
kami dapat merasakan nikmatnya kehidupan
"
-Umar bin Al Khattab RA-


maka, barangkali ada banyak faktor yang membuat hal tersebut terjadi. bagaimana tingkat kepedulian semakin rendah. dua pemicu yang saya (tebak) analisa, (1) ketika mereka mengalami hal tersebut, tidak ada yang menolong / melakukan sesuatu untuk mereka--kepedulian orang sekitar tidak mereka dapatkan--; (2)  tidak memiliki alasan kuat mengapa harus menolong. namun, menilik kisah lain... masih banyak kepedulian di hal yang berbeda. misal, di bidang sosial dimana para kalangan tanpa memandang usia turun tangat sukarela as a volunteer; para relasi kemanusiaan; dan siapapun mereka yang mengabdi atas nama pengabdian masyarakat.

hal kecil tak melulu salah. kita hanya perlu berintrospeksi. 'mungkin' kita yang pernah lalai dalam menolong. jangan  terlalu cepat men-judge. sabar aja jalani ujian tersebut, di situlah nikmat yang sebenarnya. alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah menjaga kami. tidak ada orang usil atau hal-hal aneh yang saya bayangkan mengganggu kami sepanjang jalan. bahkan di akhir ketika kami benar-benar lelah, ternyata ada sebuah bengkel yang bersedia menolong. alhamdulillah, satu ujian terlewati. namun, tak jauh dari bengkel,  setelah saya dan adik berisirahat, simpang 4 yang tadi saya dan adik lewati terjadi kecelakaan. saya deg-degan tiap melewati simpang 4 itu. dalam kondisi motor baik saja, saya sudah was-was karena terkadang kendaraan dari arah kanan pun kiri terlalu laju dalam mengemudikan kendara apalagi tadi kami dalam kondisi ban kempes yang otomatis motor hanya bisa berjalan abnormal.

maka, syukur tak terbatas atas pelajaran hari ini adalah teguran darinya.
sebulan ini banyak hal yang terjadi. mulai dari laptop yang rusak, printer, kehilangan data, buku-buku penelitian yang belum dikembalikan, buku referensi yang mendadak hilang, emosi yang labil, ketinggalan 'masa depan' (ini memang belum saatnya), motor gembos, hingga kasus skala nasional yang dipatenkan sebagai hari patah hati nasional (haha, lucu aja... alhamdulillah masih bisa menjaga hati).  inilah nikmat kehidupan. Dia menguji hambaNya agar hambaNya semakin dekat denganNya. 

kesempurnaan seorang hamba bukan tolak ukur penilaian. banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengevaluasi, tidak hanya fisik tetapi non. sebagai pemuda, yang seyogyanya dilakukan adalah turun tangan atas segala sesuatu yang terjadi. bukannya malah berpangku tangan menjadi penonton garis depan (eleh-eleh) apalagi angkat tangan. thats not young characters.
"
manusia hanya akan hidup sekali
maka sudah seharusnya bermanfaat untuk lingkungan sekitar. 
"

keep positive thinking.



diah a. said - seorang pembelajar
kendari, 13/7/2017 | 11:24 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a