Mengenalmu; untuk tidak menjadi lebih

mengenalmu untuk tidak menjadi lebih. sabtu pagi ini, pukul 4 sebelum ayam jantan berkokok dan akang di masjid mensenandungkan lafadz kemenangan dan panggilan untuk sejenak berserah; mendung kembali membasahi kotaku. kamarku semakin basah kerana sisa tangis semalam. di antara seluruh hal yang membuatku sempat untuk melankolik, saya memiliki banyak hal untuk diratapi sepagi ini.
 
TIDAK WAJAR. Iya, emang ga wajar. saya semakin memiliki banyak alasan untuk kemudian menciptakan beribu alasan yang tentu lebih banyak agar saya dapat bertahan dalam sebuah lingkaran lainnya. lingkaran yang menurut saya mulai sakit. menjadi pesakitan; tak lagi normal. sedari awal bergabung saya telah merasakannya tetapi mau di apa, saya hanya bisa melaksanakan apa yang telah saya pelajari dari bukubuku yang semakin hari semakin banyak harus saya konsumsi sebagai asupan ruhani.

ini konyol. saya merasa semakin tidak nyaman dengan keseluruhan orang yang dahulu saya anggap "baik dan taat" atas perintah Sang Perintah berasaskan enam sila yang sedari te-ka sering diulang oleh guru ngaji saya.

tangis saya buncah. itu kali ke-tiga saya menangis selama ini. egois. iya! tetapi lebih egois mana antara menolak sesuatu yang tidak disukai semata-mata karena ego dibanding menerima sesuatu untuk kemudian di tangisi.

tangis saya pecah. semakin tidak terkontrol. maka jangan mengharapkan apa yang ada pada diri ini untuk dapat diambil kelak. saya melakukan hal yang menurut saya baik berdasar hal yang saya rasa dan tanggung jawab bukan berdasar perintah demi sebuah statuta "keren/oke/baik/subjektif".

maaf, jika memang di kemudian hari Anda keenakan meminta dan berkhayal tentang apa yang inginkan terhadap saya; maka bangunlah. bangun, cuci muka, wudhu, sholat. barangkali apa yang anda ingin adalah memang keinginan anda atas saya bukan kebutuhan saya dalam beraktif ria.

masih mau ber-ekspektasi tinggi? lupakan. anda nampaknya masih belum tersadar benar.
__

jika sudah sadar, segera bertandang padaku di suatu tempat. akan kusajikan segelas kopi manis untukmu juga sepiring pisang goreng keju ditambah sedikit parutan coklat. kau pasti suka, bukan? lalu sembari menikmati, mari kita berbincang perihal hatihati yang sakit. hatihati dengan hati.

TIDAK ADA PERKATAAN MANIS SIANG INI. Hanya polusi di sepanjang jalan juga deru yang bikin ribut. pun di seberang anakanak yang baru belajar mengkoneksikan jaringan internet tengah heboh karena ulah itu (mereka juga tengah menikmati tontonan kartun masa kecil yang begitu memuakkan karena tak pernah usai--saint seia--ya, seperti itu). seperti kamu. membosankan. semakin payah bersikap. semakin parah bertingkah.

TIDAK ADA YANG DAPAT KAU PETIK SIANG INI. Hanya kekesalan seorang gadis dan kelak kau akan penasaran juga membenci tulisan ini. (nyinyir jahat gue).
__

TIDAK ADA APAAPA. JANGAN RIBUT. KAU MEMANG SUKA BERTINGKAH DALAM DIAM DAN TAK PERNAH DAPAT DIKATA SALAH. ITU KAMU , KAN?

.
.

.
.
 
Kendari, 18 Maret 2017 | 12:44 pm di sebuah meja bundar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a