Bergerak untuk Berkontribusi
(sebuah catatan hujan di akhir Maret bersama Keluarga LSIP 2017)
Mencintai
adalah belajar mengikhlaskan, bukan belajar memiliki. Karena semua
yang kita cintai, sejatinya adalah milik Allah SWT., dan disatukan lalu
dipisahkan atas izin dan ridhanya. Orang-orang tulus mencintai dan
menghargai hidup akan memilih lalu mendekap amanah layaknya permata yang
sangat berharga.
Sepotong kalimat dari sebuah buku berjudul “Cinta dalam Ikhlas”.
Ini perihal mencintai. Alhamdulillah puji atas segala nikmat. Senja
kala itu beratap putih tanpa bilik, sekelompok muda duduk beralas
dingin lantai keramik. Siul burung yang biasa sedia menemani sore absen.
Mendengkur, hindari hujan dengan intensitas cukup deras. Sedikit kena
rinai yang tempias menerpa mereka yang duduknya di pojokan. Hal itu
tidak mengurangi sedikit kadar untuk berpindah atau segera menyudahi.
Semua terkendali; asyik khusyuk berdiskusi.
Saya
bersama para pembelajar yang gemar bergerak berdinamisasi untuk
peradaban. 20 Maret 2017. Ini tentang sebuah kepercayaan berbatas waktu
dan tak lekang waktu.
“Maaf,
saya terlambat.” Saya berucap sembari tersenyum –mengeles- kemudian
duduk membiarkan mereka menggelontorkan jutaan kata untuk perubahan. Lagi-lagi
ini perihal konsistensi dalam beramal. Terkadang, ada jiwa yang mulai
letih di pertengahan bahkan di awal berkontribusi juga tak jarang di
akhir baru merasa letih. Semakin keras diri berusaha, semua akan
berbalik. Sekuat apapun diri berusaha menjauhi amanah, semakin tertekan
diri untuk berkhianat. Sebenarnya, apa yang terjadi?
PERTANYAKAN CINTA KITA. Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau
kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran
yang patah. Atau kisah Zaynuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal
Vanderwijk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka
‘majnun’ lalu mati. Atau jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu
sendiri, yang kandas di hempas takdir, atau layu tak berbalas. Itu
cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu
di sana. Mari kita berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang
baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka
terimalah ucapan belasungkawaku dan belajarlah untuk mengasihani dirimu
sendiri (Salim A. Fillah)
Akhirnya,
saya tahu bahwa cara terbaik untuk mencintai adalah mengikhlaskan. Para
mahasiswa pergi menuntut ilmu, membawa bekal doa orang tua, sanak
keluarga demi menjadi yang terbaik di antara yang lain. Anak-anak yang
mewakili sekolah dalam varian lomba skala bertingkat, mengembah
kepercayaan untuk mempertaruhkan segala kemampuan. Ibu-bapak yang entah
bagaimana bertaruh agar asap dapur tetap mengemul dan perekonomian
keluarga stabil. Termasuk dinamisasi perpolitikan dalam tatanan
keluarga. Mencintai apa yang dipercayakan, mengikhlaskan apa yang dapat
dikesampingkan. Prioritas menjadi yang utama. Di atasnya lagi tekad dan
komitmen agar tetap loyal dalam berkontribusi. Tidak semua peluh yang
keluar atas nama cinta bernafas ikhlas. Maka, mari izinkan diri untuk
membuktikan bahwa kita sangat mencintai kepercayaan ini. Jangan biarkan
sayap kita patah sebelum mengepak sempurna. Boleh cidera saat belajar
tetapi lekaslah mengobati agar tak berangsur dan tak membuatmu
menghilang dari peredaran.
Wajah-wajah
itu masih nampak serius. Sesekali mereka bercanda. Mereka harus bisa
menjadi raga dan jiwa agar tetap bersama. Mereka begitu luar biasa. Semoga dapat terus membawa perubahan. Mereka adalah Gate Way.
Rancangan program selalu berawal dari mimpi. Yang membedakan mimpi
biasa dan luar biasa adalah proses pencapaian. Saat ini mereka memang
sedang bermimpi, maka untuk mencapai kesuksesan itu tujuan dari
lingkaran sore ini adalah pemerataan misi, strategi, dan agenda aksi
yang jelas, terencana, dan terstruktur.
Selayaknya
hidup yang dinamis, maka perjalanan menjadi sebuah kepastian. Berjalan
agar tetap bergerak. Berjalan agar mencapai tujuan. Seperti sepeda yang
tetapi harus dikayuh agar seimbang, bumi yang harus berputar agar tetap
ada kehidupun atau burung yang harus mengepakkan sayap agar tak jatuh.
Semua punya cara masing-masing untuk melakoni perjalanannya. Tiap
perjalanan pasti punya pencapaian, kita sebut itu tujuan.
LSIP
adalah sebuah wadah yang hadir dan tumbuh di tengah gersangnya iklim
akademik di antara mahasiswa yang haus akan dahaga keilmuan. Sebuah
ranah idealis. Menjadikan langkah LSIP nyata bagi kehidupan kampus dan
terus menyumbang perubahan bagi pemuda Indonesia. Harapan itu ditanamkan
dalam jargon Sinergi dalam Prestasi, Unggul dalam Keteladanan.
Kesamaan konsep dan wawasan global yang dinamis menjadi kunci
keserasian langkah tetap padu yang tidak hanya di dapatkan dalam ruang
kelas melainkan jalanan, ruang seminar, dan meja diskusi.
Hari
ini, para Pengurus Harian berkumpul. Dewan Pertimbangan Organisasi.
Anggota baru. Semua lebur jadi satu. Dan, semuanya punya PR.
Kita-kami-punya PR besar untuk menjadi manusia-manusia terbaik. Menjadi
sholeh lagi cerdas, menjadi cerdas nan sholeh. Bergabung bersama LSIP
berarti harus siap mengokohkan pundak. Menegakkan bahu. Menyalakkan api
semangat. Bersedia mengorbankan segala hal sehingga di akhir
kepengurusan kelak, cinta itu tetap ada. Utuh.
SELAMAT
DATANG PENGURUS LSIP 2017. Sila melanjutkan perjalanan ini. Perjalanan
yang semoga selalu dalam kebaikan. Kami percaya. Kita bersama
memantaskan diri agar kelak bisa bertemu dan bertanggung jawab atas apa
yang dipercayakan pada kita.
“Apapun
yang terjadi kelak dengan kalian juga saya… teruslah bertahan.
Bagaimanapun kondisinya. Jadikanlah itu pengalaman. Sebagai pembelajaran
untuk masa depan. Semenit lagi; itu pun masa depan kita. Bangunlah
tatakan ini berdasar mimpi guna menciptakan tatanan apik yang terus
senantiasa berkontribusi sesuai passion kita masing-masing. Oleh karena
itu, singkirkanlah; jangan pernah bertanya; TAK USAH BERTANYA APA YANG PERNAH LSIP BERIKAN PADA KITA. AYO BANGKIT. TETAP BERGERAK. TERUS BERSINERGI
“Allah
tidak akan pernah merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri
yang mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. 13:11)
***
Terimakasih telah memberi ruang untuk kita bersama.
Terimakasih telah memberi warna sehingga dapat memetik makna.
TE-RI-MA-KA-SIH//BER-SE-DI-A//MEN-JA-DI//KE-LU-AR-GA
SALAM ILMIAH
Di bawah rinai hujan Mokodompit. UP-GRADING LSIP FKIP UHO
20 Maret 2017 | 5.16 pm | Diah Anindiah Said - seorang pembelajar
Komentar