Tentang Para Pembelajar; sebuah Catatan Perjalanan


Ini tentang para pembelajar. Menemunya bukan suatu ketidakpastian. Berharap padanya adalah kesempatan. Saya nyaman menyebutnya keluarga. Suatu hal dimana ketika tepat setahun lalu saya diberi beberapa pertanyaan ringan nan gurih dalam suatu kesempatan dan saya mulai menyebut kata keluarga untuk kemudian membuat kami jadi lebih akrab.

Perkenalan singkat yang hingga kini terus menyisakan bekas. Adalah lumrah, kami disatukan akibat daya tarik menarik yang begitu kuat. Tidak kuat keseluruhan tetapi daya itu saling menguatkan dan mengimbangi yang tidak begitu kuat lainnya. Itulah L S I P. Lingkar Studi Ilmiah Penalaran.

Keluarga Ilmiah. Kabinet Bangkit Bergerak Bersinergi (BERAKSI) Periode 2016. Lingkaran ini tidak begitu besar dengan jumlah yang tentu tidak banyak tetapi memiliki banyak jiwa yang siap bersinergi. Siap berkomitmen dan memiliki semangat juang sebab memiliki kesamaan frekuensi.

Seorang lelaki penyuka fisika, sepertinya mulai mencintai dunia kepenulisan dan terus meng-up grade bacaan. Pendiam, pemikir strategis. Dirun, sapaannya. Energinya mampu ditulirkan pada adik-adik physic. Jauh di bawahnya tetapi itulah kekuatannya; mampu menjadi pembelajar, percontohan untuk adikadiknya.

Dia selalu menoleh jika ada yang menyatakan kata 'pulang'. Terkadang menambah kata sahutan 'Ya'. Penyemangat diri sendiri. Pengambil kebijakan ketika sang komandan pelayanan umum tidak berada di tempat. Cerdas. Kritis. Dan, dia berkacamata. Penyambung daya agar keluarga dapat terus bertahan atau memanjat tangga prestasi dengan baik. Lan atau wulan, adik berdarah Bau-bau yang begitu mencintai dunia kata.

Tidak pernah sekalipun dia menolak perihal defisit yang keluar. Senyumnya khas. Pemilik IPK 4.00. Rajin dan tanggung jawab. Calon ibu guru nan cantik pun ramah. Aktif bergiat. Riang tapi polos. Yuyun Arjuni, Bendahara yang katanya tidak pernah memegang uang. Ayo, bayar iuran. 

Merintis kata sejak berkenalan dengan keluarga ini. Mulai menjaring dan memupuk ide. Baik. Semangat. Pandai memasak. Mengawali langkah kami untuk goes internasional. Penghubung yang baik. Sekretaris Jaringan dan Mitra, Sitti Herni.

Berikutnya adalah pemilik kasih sayang. Dia dapat dipanggil dengan berbagai nama. Bebs. Beb. Saya lebih menyukai untuk memanggilnya dengan sebutan dek. Ketika anak exact mulai bergulat di laboratorium, dia termasuk salah satunya. Semoga kita kembali dapat bersua, ya.

Pecinta biru. Satusatunya yang berasal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di angkatannya. Pandai mengendarai motor. Jujur, saya takut saat diboncengnya dengan keahlian yang Rossie. Pada dasarnya, saya takut dibonceng dengan kecepatan tinggi terlepas dari siapapun pengendaranya, hehe. Arin. Semangat ya, moga dilancarkan studi akhir. Doakan kami segera menyusul.

Trio, bahkan bukan. The gank of ilmiah dari Geografi. Kompak. Mengajarkan kami tentang arti persahabatan. Ada Arhayu (the lead of BUM Department), Tia (Staff PPSDM), Lia (Staff Jarmit), Sumarni (Staff Jarmit). Mereka luar biasa.

Kami memiliki seorang adik yang tak kalah super duper sibuk pula. Mathematic. Ketua Kelas. Wakil Ketua Himpunan di jurusannya. Kandidat Ketua Presiden Mahasiswa Universitas. Si Panda, saya menyebutnya. Gesit. Murni. Hai, Dek, apa kabar?

Yang satu ini, semangat keilmiahannya begitu tinggi. Cocok jadi ilmuwan. Selalu berprestasi. Melahirkan gagasan-gagasan fresh. Dalam suatu kesempatan dia rela bertolak fkip-fpik demi suksesi kegiatan saat itu. Selamat datang Fajrin. Selamat datang kembali. Semoga semangatnya selalu dijaga. Yuk, mulai berkomitmen dan lugas terhadap diri sendiri.
Selain ke-sembilan naga di atas yang selalu mengobarkan api kemenangan dan siap menjadi api sejarah; keluarga kami memiliki adikadik imut nan ketce lagi cerdas pun soleh. Siap berkarir, berkarya, berkontribusi, dan bersinergi dalam meretas mimpi-mimpi yang telah dibangun.

Ada keting ketce bernama Azzam yang ternyata namanya hanya Muh. Abd. Azam, tidak pakai la ode. Ahmad yang baru memulai menulis ternyata menyabet jawara 2 kepenulisan esai tingkat mahasiswa se-kota kendari. Riska dengan cerpen mentoringnya yang keren padahal saya belum baca tetapi yakin pasti keren. Ana, yang selalu ceria. Yuni yang selalu tersenyum. Yani, dengan atmosfir penuh misterinya. Asra, si kecil yang selalu bertanya. Rahma, Munasli, dan Mila, Team PGSD yang kompak. Dedhy, si matematikawan. Fadly, sang desainer dari teknik. Nasrul and the team of Pangan. Om Kopi, Gunawan yang biasa dipanggil Awan tanpa Mahatari dan Bulan, Andry, dan seorang lagi yang berasal dari Ilmu Budaya. Ichal, matematikawan yang sibuk berselancar di dumay. Muli kuadrat, yang terus memupuk semangat. Eka sang negosiator, Avina si kalem. Keduanya eksekutor handal. Idun dan Afil, the best team di balik layar. Ramada, dengan pelbagai kisah yang siap ia bagikan. Pendos dengan dirinya yang seperti itu (saya sulit menjabarkan, sebaiknya bertemu langsung).

Ketua Panitia Pekan Ilmiah 2017, Rizky. Matematikawan. Calon orator dan pemimpin. Semoga istiqomah membersamai, ya, Dek.

Ka Rezi, Ka Ranti, Ka Juli, Ka Can, dan Ka Arsyil; yang selalu siap diundang mendadak (hehe) dan menanggapi pertanyaan culun seorang anak yang baru merintis dunia ini. Semoga dimudahkan segalanya. Jia you qaqah.

Para alumni dan pendiri LSIP yang keren di bidangnya masing-masing: Kak Eka Wihasti, Kak Mujahid Hamdan, Kak Mansur Raatu, Kak Andi Ahmadi, Ka Didul, Kak Jumadil, Kak Jumadin, Kak Maulana, Kak Ema, Kak Syarif, Kak Betwan, Kak Nashar, Kak Saban, Kak Hasna, Kak Hera, Kak Lanar, Kak Tris, Kak Syahrir, Kak Aufal, 2012 Alumni, Kak Shalipp, Ka Achmad Salido, Ka Juharisman, Ka Fatsan, Ka Dias, Ka Kiki, Ka MJ, dan masih banyak lagi pendiri, pemikir, pun alumni LSIP yang tidak dapat disebutkan. Semoga Allah senantiasa merahmati.

Keluarga kecil nan bahagia dari LSIP: Kak Salam dan Kak Hasriani dg Dd Abdullah yang semakin menggemaskan proses tumbuh kembangnya; Kak Najmun dan Kak Ika yang telah dikaruniai putri sholehah insyaAllah (aamiin); Kak Ali Isbar dan Kak Nur Faini, yang juga telah dikaruniai seorang putri sholehah; Kak Widi dan Kk LSIP juga, semoga dianugerahi amanah oleh Allah, Kak; serta Kak Bagenda Ali dan Kak Nurjannah Tamil.

Jika Tuhan berkenan, adikadik "kader" lsip junior ini menjadi sholeh/ah, berbakti pada orang tua, dan dapat melanjutkan estafet kepemimpinan serta realisasi mimpi kami--kita-- semua. 

Yang terakhir, saya. Namaku adalah saya. Saya berasal dari FKIP. Jangan ditanya soal LSIP. Dia adalah segalanya. Jadi, siapakah saya? Saya adalah aku. Pecinta kesederhanaan. Baru nemu fakta kalau saya katanya perfeksionis (semoga itu hanya katanya). Penikmat senja dan bukubuku yang berjejer rapi di rak. Gemar mengejar matahari juga pejuang kebahagiaan.
Terlepas dari itu, para simpatisan dan semua pihak yang telah turut serta berjuang hingga akhir ini, tanpa terlepas dari ikatan bahwa kita adalah keluarga. Keluarga yang tidak berada di dekat. Keluarga yang lengannya tidak dapat merangkul tetapi pemikirannya senantiasa kami ingin dan butuhkan demi proses regenerasi bibit unggul yang tetap setia dan sedia membersamai.

Sabtu (11/2) lalu kami menutup Pekan Ilmiah LSIP se-Kota Kendari yang mulai dilaksanakan sejak Senin (6/2). Sebuah pekan yang nampak biasa tetapi luar biasa. Alhamdulillah, Allah beri pasukan yang kuat dan tegar untuk suksesi kegiatan ini. Pendukung kegiatan, yakni Birokrat Kampus, Sponsor, Tim Alumni yang super, juga penyedia jasa lainnya yang siap dadakan dengan segala permintaan panitia.

Ibarat kendaraan, kami mengendarai jalan yang tak biasa. Peserta event yang luar biasa. Pemateri seminar dari Pihak Balitbang Prov. Sultra dan Wakil Dekang Bid. Kemahasiswaan dan Alumni.

Haru. Kegiatan akhirnya selesai. Sesi rapat ba'da kegiatan di tiap harinya akan berakhir juga. Lingkaran kecil dengan pemikiran kritis yang senantiasa memberi tawaran, arah kemana kita berpijak. Tangisan, peluh, dan tawa saat rapat hanya akan menjadi kenangan.

Waktu terus berputar. Waktu hanya 24 jam. Tidak kurang, tidak lebih. Segala hal pada akhirnya harus berakhir. Tanpa ada yang merasa kalah kecuali menang. Sebab masing kita memang ditakdirkan untuk menjadi pemenang, bukan?

Jerih payah seluruh pihak sangat kami hargai. Kami belum dapat memberikan sesuatu yang berharga. Kami belum baik dalam mengelola, sadar bahwa masih minim akan pengalaman. Namun, kami dapat dengan ide segar pihak muda. KAMI MENAWARKAN MASA DEPAN.

Dokumentasi kegiatan abadi di ingatan. Bagaimana sudut pandang kita terhadap seorang cipta. Bagaimana kita menangkap tiap gerakgerik. Lensa kamera mendapatkan view yang kita inginkan tetapi tidak semua. Semua proses hanya akan abadi dalam penglihatan dan ingatan. Maha Besar Allah dengan segala anugerah yang diberinya. Semoga kami selalu menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan tawadhu atas segala nikmat.

Perjalanan ini menjadi begitu indah. Sangat indah. Suatu masa yang mengajarkan bagaimana kami berkomunikasi lewat tatapan, isyarat, dan hati. Saya percaya, ikatan hati yang telah mengakar akan menjadi suatu pohon yang rindang. Dimana kita dapat kembali. Kembali menceritakan kisah pendahulu.

Terimakasih untuk semua. Terimakasih atas kebaikan dan kehangatan yang diberi hingga atmosfer keluarga ini terus terjaga. Terimakasih untuk senyum, motivasi, dan canda gurih. Sebagai pembelajar yang baik, tugas kita adalah terus berproses dan belajar tiada henti. Perjalanan seyogyanya diisi dengan pen-tadabbur-an. Niat. Juga, kerendahan hati. Atas nama pribadi, saya memohon maaf untuk keisengan saya, canda yang berlebih, diamnya saya, lisan yang menyakiti, juga tingkah yang menyinggung. Maaf pula untuk nama yang tidak tertulis. Semoga peluh, harta, tenaga, dan segala apa yang telah diberi menjadi pemberat hisab kita semua.

terimakasih
telah berjuang berkeringat peluh bersama dari titik terendah
setapak demi setapak hingga berada di puncak

maaf
belum dapat berikan yang terbaik.
semoga dapat dimaafkan.

Semua luar biasa. Saya cinta keluarga LSIP karena Allah. Saya menyukai tiap kenangan bersama. Saya menghargai tiap kebersamaan yang tercipta. Mensyukuri kehadiran diri pribadi dan teman-teman dalam keluarga ini. Semoga Allah terus menjaga hati kita agar tetap bersatu di koridor yang sama.

tugas kita
adalah bukan membangun satu menara untuk ditempat bersama
tetapi untuk mengangkasa bernama. 

Akhirnya, selamat merawat ingatan; merawat cinta. Menjaga semangat. Menuliskan mimpi. Menjaga komitmen. Mengikat janji; untuk Lingkar Studi Ilmiah Penalaran. SESUNGGUHNYA, Kenyataan hari ini adalah mimpi masa lalu, dan kenyataan masa depan adalah mimpi hari ini (Hasan al-Banna). Semoga kita dapat bertemu kembali dengan menggengam karya kita di ruang dan waktu yang telah di sediakan.

“The best things in life are people we love,
the places we’ve been, and the memories we’ve made along the way”
(anonymous)

Diah Anindiah Said
Kendari, 14 Februari 2017 | 7:15  am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a