Sunshine Becomes You (1)


Anak itu mulai pandai berkelana seorang diri. Belum terlalu cerdas untuk dikatakan mandiri. Mulai belajar berjalan sedari anakanak seusianya belum siap menapak. Dia begitu tidak sabaran untuk berproses. Kakinya begitu kuat hingga langkahnya tak lagi dapat dihitung dalam sehari; dia tetap berjalan.

"Nak, kamu kecil orangnya rusuh. Gak bisa diem. Sukanya manjat sana sini. Dalam gendongan pun kamu akan berusaha menggeliat dan menjelajah. Tidurnya tiga enam puluh derajat. Cerewet dan kamu pembelajar yang cepat," kenangnya.

Si pendengar kembali terdiam. Lahir di suatu kota jauh di pelosok timur membuatnya berbeda dari saudaranya yang berada jauh  di kampung halaman. Bapak yang telah lama mengais rupiah memboyong seorang wanita yang dinikahinya tiga tahun sebelum kelahirannya untuk bersama  melanjutkan hidup di tanah rantau.

Kehidupan memang seperti itu. Kadang kita perlu berotasi. Terkadang, dari barat menuju timur dan timur menuju barat. Tidak menampik, persoalan ekonomi. Hidup berjalan apa adanya. Tepat Dua Tujuh Januari di Ramadhan 1416 Hijriah; bayi itu menyapa dunia. Alhamdulillah, proses persalinan berjalan normal.

Tumbuh dan berkembang tidak pada biasanya. Tetapi dia adalah hadiah. Semua adalah anugerah tidak hanya untuknya tetapi keluarga kecilnya. Ian; biasa disapa. Menghabiskan separuh masa kecil bersama bapak di kantor yang penuh sel. Dia menyukainya.

Dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya menjadi diri sendiri. Menjadi sosok yang sukar diketahui karakternya. Diamnya menjadi tanya, suaranya menjadi tanya. Itulah dia. Dia tumbuh apa adanya; bukan ada apanya. Menggeluti dunia sebab akibat; exact; dan kesederhanaan. Dia.

Tak terasa, beberapa pekan lalu usianya bertambah. Tidak lagi muda. Tua dalam perjalanan yang belum banyak asam garam. Tak ada hal spesial yang dilakukan. Dia selalu sendiri melakukan apa yang dia bisa, mau, butuhkan. Sukar mempercayai.

Di perjalanan hidup dengan cerita yang dirawatnya; alhamdulillah ada wanita tangguh dibalik itu. Seorang wanita yang menanggung keberadaannya selama 9 bulan sebelum mengenal apapun. Siap bertarung demi keberadaannya. Wanita itu begitu tangguh. Sangat tangguh.


Dua puluh dua tahun kini; dengan perjalanan yang dilakukan banyak hal tersingkap. Bagaimana menyikapi kehidupan yang tidak ditahui hitam putihnya. Bagaimana menata kehidupan dan mulai mengenal halhal baru yang semakin lazim di usia yang beranjak tiap tahunnya. 

Kehidupan ini manis. Indah. Cara menuturkan apa yang dirasa pun berbeda. Menjalin kisah ini itu membuatnya banyak dan keseluruhan hal di dalamnya menjadi lebih berarti. Olehnya, teruslah membuat hidup menjadi berarti. Dimanapun. Kapanpun. TERUSLAH MENGEJAR MATAHARI.

SEBAB kita tidak tahu, dari arah mana matahari akan tepat menyinari kita setelah sunshine mulai memudar. Saat sinar mulai menyerahkan cahyanya untuk kita. TERUSLAH MENGEJAR MATAHARI; untuk belajar dan mengambil hikmah. 


“Sometimes you have to experience the bad,
so that you can learn to appreciate the good things
that enter your live.” (Leon Brown)


dy a. said
Kendari, 16 Februari 2017 | 6:47 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a