Buku Kita


Buku kita. Rapih tersusun. Terbengkalai kadang. Koyak sebagian oleh rayap. Lusuh sebagian.

 *** 

Kita mencintai buku agar buku mencintai kembali. Mengembalikan cinta untuk saling memberi. Tak perlu banyak kata untuk mencinta.

Kita mencintai diamnya buku; dengannya belajar bahwa bijak itu perlu. Bukan terkadang dibutuhkan.
Kita mencintai indahnya buku; tahu bahwa estetik pun tak hanya sekadar isapan jempol.
Kita mencintai tebal tipisnya buku; tahu bahwa ukuran kadang tak pengaruhi kualitas.
Kita cintai penulis buku; mengenal bahwa dia baik telah mentrasfer apa yang dimiliki untuk transformasi.

Kita cintai buku: baca tulis. Buku itu telah ada. Ada pun buku itu belum tersentuh. Sentuh sekali untuk selamanya. Selamanya pun tak tiap waktu.

***

Buku kita. Kita baca kemudian tulis. Tulis untuk menggenapi. Genapi untuk purna. Purna pun tak ditahu. Tahutahu telah ada. Ada untuk bersama. Bersama.

Buku kita; sampulnya beda. Beda untuk disatukan. Satu karena sevisi. Visi yang tersemai, agar mengangkasa bersama. Bersama.

Buku kita; untuk kita. Kita rajut dengan pelbagai ekspresi. Ekspresi kehidupan. Kehidupan nyata dan terpenting dalam bagian hidup kita.

Buku kita. Kita dimana? Mana aku. Mana kamu. Kamu dimana? Dimana aku?

Buku buku dan kita kita. Semoga segera dipertemukan. Di waktu yang tepat. Di perjuangan yang tetap berkobar api semangatnya.

*** 


#perjalanan #bombana








dy a. said
Kendari, 15 Februari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a