Selamat Datang, Oktober
Selamat datang, Oktober!
Ada apa dengan Oktober? Tidak, tidak ada suatu spesial sekalipun. Lalu? Ya, aku hanya bermaksud menyambutnya secara sederhana. Dengan cara sederhana, seperti air yang harus menjadi ricik, atau angin, atau api jelma abu, atau bahkan dengan menjelma siapapun.
Ini kali Oktober tidak datang seorang diri. Dia menjadi begitu istimewa untuk dirinya. Seperti itu? Bisa jadi atau bahkan tidak. Lupakan! Atau Luapkan? Terserah. Tiga puluh hari sebelumnya dan sekian jam sebelum pukul ini, dirinya rebah dengan hujaman tiga puluh dentum ketidakpastian. Jarinya asyik mengetok meja rias dan mendandani bukunya dengan beribu kata. Menulis diari? Entahlah, yang kutahu dia sedang menulis. Tiga puluh hari sebelumnya di dadanya remuk sebuah kemantapan. Katanya, aku mungkin tidak seperti yang kau pikirkan tapi apa yang kau pikirkan tentangku tidaklah salah. Sebut saja aku, pikirkan saja aku, dan katai aku dengan anggapan lumrahmu yang semua orang yakini itu benar: Aku tidak apa-apa. Kau yakin? Iya.
Ini kali Oktober menyabet penghargaan terbaik. Gagah melangkah dan melukis senyum dibibirnya. Tidak begitu baik tetapi cukup untuk memberitahu siapapun yang melihatnya bahwa ia memang seorang hebat. Padahal tempo hari matanya penuh ketakutan. Padahal tempo hari tangannya gemetaran. Padahal tempo hari kakinya mengejang dahsyat. Padahal tempo hari hingga dini hari tadi tidurnya belum juga senyenyak tiga puluh hari sebelumnya.
Ini kali Oktober sibuk diperbincangkan. Ramai jalanan dengan kasakkusuk tentangnya. Kau kenal Oktober? Tidak. Lantas? Aku hanya mendengar tentangnya lantas kujadikan topik untuk beritaku ini hari. Lalu? Aku berniat menemuinya tapi nampaknya ia tidak begitu suka untuk kuajak bercakap perihal kabar gembira itu. Cukupkan! Tidak. Aku tidak akan berhenti. Ini berita hebat, kawan. Kau tahu? Semua membicarakannya. Ah, dia... dalam sekejap mendadak tenar...
Wartawan itu terus mengoceh dan laporanku selesai. Aku berhasil merekam kesahnya yang teramat menyerupai kutbah jumat itu.
...
Selamat datang, Oktober
Ini kali kau gandeng Dzulhijjah. Tak seperti biasa. Wajahmu kini lebih bersinar sekian ribu volt dibanding sebelumnya. Apa kau sedang bahagia?
Selamat datang, Oktober
Kudengar kemarin kau petik bunga seberang. Mawar, melati, semuanya indah bukan? Kuyakin kau memilih satu yang terbaik. Bukankah telah mekar itu indah dan kau tak lagi gelisah? :)
Selamat datang, Oktober
Hentilah resapi sepi. Kutahu diamdiam kau meniti tabah yang tak pernah jatuh. Dan diantara perayaan yang tak pernah dilupakan, ada tarian cita dan bebunyian manik bulan. Kini, tidak ada lagi jiwa yang patah pun kibaran luruh sedih.
Selamat datang, Oktober
Setidaknya kau tak lagi rompang, bukan? Sebab kuat tak akan habis digerogoti sunyi. Sebab jika lelah, silah mampir guna peroleh temu. Bukankah tak lagi ada yang asing?
SELAMAT DATANG, OKTOBER.
.
.
.
.
.
DY. Kendari, 1 Oktober 2015
9:31 am
Ada apa dengan Oktober? Tidak, tidak ada suatu spesial sekalipun. Lalu? Ya, aku hanya bermaksud menyambutnya secara sederhana. Dengan cara sederhana, seperti air yang harus menjadi ricik, atau angin, atau api jelma abu, atau bahkan dengan menjelma siapapun.
Ini kali Oktober tidak datang seorang diri. Dia menjadi begitu istimewa untuk dirinya. Seperti itu? Bisa jadi atau bahkan tidak. Lupakan! Atau Luapkan? Terserah. Tiga puluh hari sebelumnya dan sekian jam sebelum pukul ini, dirinya rebah dengan hujaman tiga puluh dentum ketidakpastian. Jarinya asyik mengetok meja rias dan mendandani bukunya dengan beribu kata. Menulis diari? Entahlah, yang kutahu dia sedang menulis. Tiga puluh hari sebelumnya di dadanya remuk sebuah kemantapan. Katanya, aku mungkin tidak seperti yang kau pikirkan tapi apa yang kau pikirkan tentangku tidaklah salah. Sebut saja aku, pikirkan saja aku, dan katai aku dengan anggapan lumrahmu yang semua orang yakini itu benar: Aku tidak apa-apa. Kau yakin? Iya.
Ini kali Oktober menyabet penghargaan terbaik. Gagah melangkah dan melukis senyum dibibirnya. Tidak begitu baik tetapi cukup untuk memberitahu siapapun yang melihatnya bahwa ia memang seorang hebat. Padahal tempo hari matanya penuh ketakutan. Padahal tempo hari tangannya gemetaran. Padahal tempo hari kakinya mengejang dahsyat. Padahal tempo hari hingga dini hari tadi tidurnya belum juga senyenyak tiga puluh hari sebelumnya.
Ini kali Oktober sibuk diperbincangkan. Ramai jalanan dengan kasakkusuk tentangnya. Kau kenal Oktober? Tidak. Lantas? Aku hanya mendengar tentangnya lantas kujadikan topik untuk beritaku ini hari. Lalu? Aku berniat menemuinya tapi nampaknya ia tidak begitu suka untuk kuajak bercakap perihal kabar gembira itu. Cukupkan! Tidak. Aku tidak akan berhenti. Ini berita hebat, kawan. Kau tahu? Semua membicarakannya. Ah, dia... dalam sekejap mendadak tenar...
Wartawan itu terus mengoceh dan laporanku selesai. Aku berhasil merekam kesahnya yang teramat menyerupai kutbah jumat itu.
...
Selamat datang, Oktober
Ini kali kau gandeng Dzulhijjah. Tak seperti biasa. Wajahmu kini lebih bersinar sekian ribu volt dibanding sebelumnya. Apa kau sedang bahagia?
Selamat datang, Oktober
Kudengar kemarin kau petik bunga seberang. Mawar, melati, semuanya indah bukan? Kuyakin kau memilih satu yang terbaik. Bukankah telah mekar itu indah dan kau tak lagi gelisah? :)
Selamat datang, Oktober
Hentilah resapi sepi. Kutahu diamdiam kau meniti tabah yang tak pernah jatuh. Dan diantara perayaan yang tak pernah dilupakan, ada tarian cita dan bebunyian manik bulan. Kini, tidak ada lagi jiwa yang patah pun kibaran luruh sedih.
Selamat datang, Oktober
Setidaknya kau tak lagi rompang, bukan? Sebab kuat tak akan habis digerogoti sunyi. Sebab jika lelah, silah mampir guna peroleh temu. Bukankah tak lagi ada yang asing?
SELAMAT DATANG, OKTOBER.
.
.
.
.
.
DY. Kendari, 1 Oktober 2015
9:31 am
Komentar