Jangan Melupakan Sejarah, Gaes
Judul buku:
Gara-gara Indonesia
Penulis:
Agung Pribadi
Penerbit:
AsmaNadia Publishing House
ISBN:
978-602-9055-16-0
Tebal: xiv +
210 hlm; 21x14.3 cm
Garagara Indonesia, Amerika kalah
perang di Vietnam
Garagara
Indonesia, Napoleon kalah perang di Eropa. Garagara Indonesia kolonialis
kehilangan puluhan Negara jajahan. Kalau tidak ada Indonesia mungkin Amerika
tidak ditemukan Colombus. Kalau bukan karena Indonesia, mungkin malaria lebih
mematikan. Kalau bukan karena Indonesia mungkin dunia tidak sedamai sekarang…
Ada apa dengan Indonesia? Kapan?
Siapa? Masa? Tidak mungkin. Sebuah kitab berisi riwayat tentang suatu hak yang
sedari lahir telah dimiliki yang ingin diperjuangkan. Mengajar untuk menyerukan
segala aspirasi hati nurani yang entah
berlandaskan logika atau perasaan, bahkan keduanya. Tanpa mempertimbangkan
terlebih dahulu konsekuensi yang ‘kan menghampiri.
Jika status kita sebagai pemegang klasemen tertinggi dalam liga ilmiah, lalu
pantaskah kita duduk berdiam
diri menanti keputusan tanpa
keadilan seperti kursi goyang yang selalu empuk dan bergoyang tanpa
menghasilkan deret nada, bukan deret aritmatika. Lakukan segalanya dengan
matang, nyata, dan adil.
Buku yang menarik dengan judul yang menarik (pula). Mengulas
materi sejarah (dalam kemasan unik) dan dibalur motivasi. Bahasa yang digunakan
ringan, tidak bertele-tele.
Bagian I:
Gara-gara Indonesia
Kekayaan
Indonesia sebagai kekuatan sumber daya yang merupakan jaminan masa depan.
Amerika, Napoleon, Konferensi Asia afrika, dan beberapa tokoh yang berputar
dalam roda hidup bangsa Indonesia.
Bangsa
Indonesia memiliki banyak peran dalam sejarah dunia. Begitupun alamnya. Juga
peristiwa besar dalam sejarah seperti kekalahan Napoleon Bonaparte. Bagian ini
menjamu pembaca dengan fakta sejarah yang begitu berarti bagi dunia. Kekayaan
alam bangsa Indonesia memiliki potensi untuk mengubah dunia dan dibutuhkan
andil tunas-tunas muda untuk bangkit sebagai pembuat sejarah. Tidak sekadar
bagian kecil dari sejarah itu sendiri.
Muhammad
Yunus, satu di antara beberapa orang yang mendapatkan nobel perdamaian pada
tahun 2006. Pria berkewarganegaraan Bangladesh ini bukan seorang aktivis
politik melainkan bankir. Bukan seorang WNI, lantas? Muhammad Yunus berhasil
berhasil meruntuhkan teori Karl Maxdengan mendirikan Grameen Bank atau Bank
Desa. Ide tersebut merupakan inspirasi yang ia dapatkan dari praktik yang
dilakukan BRI (Bank Rakyat Indonesia) yang memberikan kredit kepada rakyat
kelas menengah ke bawah di Indonesia.
Sayangnya,
BRI yang menjadi sumber inspirasi malah belum dilirik dunia internasional. Apa
yang membuat Grameen Bank lebih unggul? Itulah yang harus dipelajari BRI agar
mendapat pengakuan internasional.
Bagian II:
Hanya Indonesia Berani Beda
Banyak
pencapaian bangsa Indonesia yang tidak dicapai bangsa lain. Fakta membuktikan
bahwa kekalahan sekutu setelah PD II hanya terjadi di Surabaya. Pangeran
Dipenogoro, ketika memimpin Perang Jawa 1825-1830 sebenarnya tidak terkalahkan.
Dalam bukubuku sejarah berbahasa Belanda diungkap bahwa perang ini termasuk
perang terberat yang dihadapi Belanda.
Bagian III:
Indonesia Lebih Hebat
Indonesia
saat ini dijuluki sebagai Negara
demokrasi terbesar ke-3 di dunia. Julukan ini disandang sejak Indonesia
melakukan reformasi dan pemilihan presiden secara langsung.
Terlepas dari
penerapan hokum yang masih jauh dari harapan, sebenarnya reformasi hokum di
Indonesia sejak pertama reformasi telah membuat kekuatan dan proses hukumjauh lebih unggul dibanding kebanyakan
Negara lain. Contoh: KPK.
Apakah
Indonesia bisa jadi bangsa besar? Jawab: Dari tinjauan sejarah sangat
memungkinkan.
Bagian IV:
Belajar dari Sejarah Untuk Melihat Masa Depan
Mempelajari
sejarah bukanlah sekadar untuk mengetahui masa lalu melainlan lebih memahami
masa depan. Dari sejarah kita bisa melihat semua dimungkinkan. Semua pilihan
kita.
Setelah membaca buku ini, sebagai seorang mahasiswa, saya berpikir bagaimana cara menyeimbangkan antara konsep logika dan hati, agar berjalan selaras, imbang, tidak berat sebelah. Sebab sebagai kasta tertinggi ada saja yang masih tetap beriak dalam keruhnya air. Haruskah saya bangga menjadi anak Indonesia hanya karena gara-gara Indonesia Napoleon kalah perang di Eropa. Garagara Indonesia kolonialis kehilangan puluhan Negara jajahan. Kalau tidak ada Indonesia mungkin Amerika tidak ditemukan Colombus. Kalau bukan karena Indonesia, mungkin malaria lebih mematikan. Ya, Gara-gara Indonesia.
Saya rekomendasikan buku ini bagi teman-teman penyuka sejarah, gemar membaca, pengoleksi buku, gemar ber-politik-ria agar membacanya. Mari sama-sama berpikir tentang Indonesia yang tetap berlayar dalam ombak yang ganas.^_^
***
Komentar