Bukan Apaapa

Di bibirmu, separuh sinar bulan rekah
padahal langit sedang resah

di matamu, purnama utuh
menjadi rindu yang buncah
saat gelisah
dan aku menerawang jauh

kisahmu teramat panjang. harapan-harapan banyak menanti, berharap kau sentuh.  laksana suratan tuhan, kita tidak dapat menggenggam satu sama lain. seakan mengelak gulatan takdir. kita memang selalu seperti ini, tidak pernah berubah. selalu ingin menjadi kanak yang keras kepala. ah, pagi ini dengan kopi yang kusesap dalam-dalam, buatku lebih jauh lagi menelisik waktu. memasuki koridor dan berbagai kelokan sebelum akhirnya aku sampai pada saat dimana kita bertemu. kau tahu? ah, kau tidak perlu tahu.

Di tanganmu, kristal menggambar waktu
malu malu ku tatap
fitrahku mendambakanmu
dan aku ingin mencintaimu.

***
akan ada perubahan di hari esok. bagi semua orang, itu adalah kodrat alam. namun, tidak bagiku. satu langkah di hari ini dan langkahlangkah selanjutnya teramat menentukan siapa aku di hari esok. di lima tahun yang akan datang dan tahun-tahun berikutnya. sebab, perlahan tapi pasti semua akan berubah kecuali perubahan itu sendiri.

dy
kendari, 30 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a