Fort Rotterdam - Somba Opu: Sebuah Catatan Perjalanan

Di Jalan Pasar Ikan menjelang maghrib, langit semakin gelap. Hujan kian gencar menerobos bilik baju semua yang sengaja atau tidak sengaja bersapa dengannya. Berjalan dari Fort Rotterdam menuju Losari adalah jarak tempuh yang tidak terlampau jauh. Saya dan teman memutuskan untuk menyudahi petualangan di benteng yang menyimpan jejak Pangeran Dipenogoro serta perjuangan Ujung Pandang tempo dulu.

Menyempatkan diri berswafoto di tepi jalan serta menikmati sedikit semburan hujan membuat saya dan teman tidak kuasa untuk segera berlindung. Tidak kuat bertahan lebih lama, kami memasuki sebuah toko oleh-oleh  di kawasan Somba Opu. Lumayan banyak panganan serta souvenir tersedia. Terutama, kue aneka bentuk dan rasa (durian). Saya tidak dan sulit untuk menemukan varian rasa itu di kota tempat saya berasal.

Lepas memuaskan mata, berpikir oleh-oleh akan ditujukan oleh siapa, dan apa yang akan dibeli, saya meminta untuk mampir ke sebuah tempat makan. Untuk urusan kampung tengah, saya akan jujur mengatakan. Saya tidak akan membiarkan maag saya kambuh di tanah orang, wkwkwk. Kami memutuskan untuk berteduh sejenak sembari menyusuri emperan toko sepanjang jalan itu.

Tepat berbeda tiga-empat toko dari toko tempat saya membeli souvenir, seorang bapak yang berprofesi sebagai ojek online tengah berteduh bersama buah hatinya yang kami taksir berusia sekitar setahun. Anak tersebut menangis, menggigil kedinginan. Hujan maghrib itu memang sangat deras. Saya dan kawan pun dibuat kuyup olehnya. Kami dengan usia 20an saja tidak sanggup menahan dinginnya, apalagi si adik. Rasa iba muncul tetapi kami hanya bisa melihat. Si anak merengek. Si bapak berinisiatif mengambil henpon, pikir kami menghubungi ibu si adik. Ternyata benar. Kami terpingkal sejenak karena percakapan ibu bapak sekaligus kasihan si adik. Mauka gendong -_-

Melihat hal tersebut, teringat pesan orang tua dan murabbi. Terlintas, bagaimana saya ke depannya? Akan seperti apa? Tidak mudah menjadi orang tua. Maka, landasan pacu kiranya sedari saat ini harus semakin di asah. Jangan sampai tidak siap menerima cuaca yang berubah-ubah. Kiranya jika tak siap, maka akan mudah tergelincir maupun stak di satu kondisi. Pemandangan tak biasa antara bapak-anak tersebut membuat perenungan kilat. Bersyukur, di perjalanan hari itu (16/4), Allah  SWT., memberikan pembelajarannya lagi agar diri tetap mempersiapkan diri untuk menjadi. Belajar sepanjang hayat, bukan hanya belajar ketika akan...

Tak pelak, kisah Ibunda Siti Hajar dan Ismail pun membayang. Betapa ketika itu, bayi Ismail a.s yang kehausan di padang pasir gersang merengek meminta. Tangisan bayi yang tidak didengar siapapun terkecuali penduduk langit.  Bagaimana saat Siti Hajar yang melihat air, setelah di dekati ternyata hanyalah fatamorgana. Lari-lari kecil Ibunda, kekasih Ibrahim sepanjang Safa hingga Marwah berbuah hasil. Pancuran air yang dikenal sebagai Air Zam-zam yang tidak pernah kering dan memiliki beragam khasiat. Subhanallahu.
 



Dari peristiwa-peristiwa yang dijumpai, saya yakin Allah is always beside me. Tidak ingin meninggalkan hambaNya seorang diri. Selalu memberikan pelajaran juga ujian yang takaran antar ciptaanNya itu berbeda. Allah ingin kami mengambil ibroh, termasuk belajar dari para pendahulu. La hawla walaquwwata illa billah.

“Biarlah Allah saja yang menyemangati kita, karena itulah semulia-mulia alasan.
Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita, karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan…”  - dewi nur aisyah

Di tengah tempias hujan dan lamunan, saya tersadar kampung tengah semakin tidak bersahabat. Saya khawatir maag kemarin sore yang kambuh akan kambuh lagi maghrib ini (hahaha), kami berjalan lagi. Meninggalkan si adik dan ettanya. Kami berjalan kembali ke arah benteng. Tidak sampai menyeberang. 
Di hujan kala itu, banyak doa terbubung tinggi. Jauh. Menuju lapis langit. Saya tidak tahu doa tersebut sampai atau tidak pada penduduk langit. Yang saya tahu, doa-doa itu lepas begitu saja, ringan, tanpa beban. Semoga dia menemu jawabnya.

Beberapa kendaraan yang nekat memacu lajunya memperlihatkan betapa jika 15 menit lagi curah hujan tidak segera berkurang maka air akan sampai di 3/4 kaki dewasa. Air bersemburan dari laju motor. Ada yang memakai jas hujan, ada yang tidak. Saya sampai menertawakan diri sendiri di sela itu. Mengingat bahwa betapa konyolnya terkadang saya pun membiarkan hujan menggerayangi. Membikin basah. Mencipta doa, agar hujan tersebut adalah berkah.

Nyaris sejam terjebak hujan dengan kondisi tubuh sedang tidak fit, alternatif terakhir yang kami pilih adalah memesan kendaraan via online. Sebuah kendara roda empat berwarna hitam pekat 10 menit kemudian tiba. Kami segera naik. Qadarullah, saat kami mulai menaiki kendaraan tersebut, hujan perlahan berhenti. Si bapak driver mengatakan, beberapa jalan daerah sini akan banjir. Dan, benar saja. Beberapa rute yang kami lewati lumayan. Lumayan.
Tak lama, kami sampai ke Pantai Losari. Menyusuri tenda Pisang Eppe. Menebas rintik. Pilihan kami jatuh pada warung ke tiga dari ujung. Sebelumnya, insiden saya menyenggol kabel lampu yang mengakibatkan lampu tidak lagi menyala membuat rasa bersalah. Namun,melihat lampu yang ternyata masih bisa menyala ^^, kami memutuskan untuk cuek dan terus berjalan (jangan ditiru).

Suasana PanLos yang baru saja hujan, membuatnya sepi. Berbeda dengan malam kedatanganku sebelumnya, yang begitu ramai. Bahkan terjebak kemacetan hingga nyaris 11.30 pm.

Belum kenyang, tetapi setidaknya perut sudah terisi 'sedikit'. Kami pulang. Oleh teman, saya ditawarkan untuk mengunjungi Galeri Lukis yang berada di dekat Angsa. Kami bergegas, takut hujan turun lagi.

Amazing. Saya menyukai lukisan-lukisan tersebut. Sayang, saya tidak dapat membelinya -_- (skip)
Menyempatkan charging, memuaskan mata memandangi lukisan-lukisan sederhana nan apik, ditambah dingin Losari: sempurna.

miniatur Patung Pangeran Hasanuddin - Galeri @Pantai Losari, Makassar (16/4)

Dari Losari, untuk menuju jalan utama mengambil angkot, kami kembali berjalan kaki. Untung sepi jadi masih bisa berjalan 'sedikit' santai dan bercerita. Sungguh, itu perjalanan yang begitu menyenangkan dengan part-part yang saling melengkapi sequel satu dan lainnya. Sekuen-sekuen itu separuh terungkap menjadi tulisan, separuhnya mengendap dalam ingatan.

" Di sini, di Kediaman Daeng,
ada rindu yang beradu, di doa-doa
tetapi terhalang dosa
ada kata yang mengadu, di goa-goa
untuk menggema sabda.
ada cinta. di jiwa
yang merindu surga. " -dy-



catatan Makassar, 16  April  2018



Kendari, 2 Mei 2018 || 8.50am
diah a. said - seorang pembelajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a