mengeja rindu

Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi 
Entah sampai kapan
'Ku mengingat tentang dirimu 

'Ku hanya diam 
Menggenggam menahan 
Segala kerinduan 
Memanggil namamu 
Di setiap malam 
Ingin engkau datang 
Dan hadir di mimpiku 
Rindu 

Sebab yang pergi; akan ada yang mengganti walau posisi dan kadar lainnya tentu tak sama. Tiap person memiliki cita rasa sendiri. Maka, kesiapan untuk menerima dan melepas adalah konsekuensi atas segala penerimaan.



Matahari akan berganti, berganti cahaya bulan bintang. Kadang, ketiganya tak nampak. Tertutupi awan kelabu disertai tetesan air langit. Tidak hanya tangisan bidadari yang dipertanyakan tetapi sembabnya mata ketika hujan telah berlalu.
Adalah rindu yang mengeja. Menunggu ketepatan, keakuratan atas segala hingga semua jadi satu. Jangan tanya kapan kita bertemu, tetapi tanyakanlah akan kesiapan perpisahan. Jangan ucap, tak bertemu sehari itu ngangenin sebab kelak tak akan ada lagi pertemuan-pertemuan selain kenangan yang menggenang di tiap rengekan hujan.

Kita--masing-masing dari kita--hanya berusaha untuk berjuang menuju kemenangan atas cita. Berusaha saja, DIA penentunya.

Dan waktu 'kan menjawab 
Pertemuanku dan dirimu 
Hingga sampai kini
 Aku masih ada di sini 

 jujur, aku rindu.


.
.
.
kendari, 5 April 2018 11.33pm
diah a. said - seorang pembelajar

nb: kata yang dicetak miring adalah lirik lagu Virzha - Tentang Rindu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a