Kamu, the other reason
Kemudian para sahabatnya pun menjadi sosok yang menaruh dunia hanya di tangan mereka, tidak masuk ke dalam hati mereka.
Seperti apa rupa sahabat? Adakah dia yang selama ini menanti kita dapat disebut dan kenang sebagai sahabat? Sebenarnya, dia siapa hingga kita menyematkan "sahabat" padanya?
Saya cukup ribet untuk memahami apa yang dimaksud dengan sahabat dalam arti sebenarnya. Dan, tidak menutup kemungkinan saya tidak memahami mengapa saya hanya memiliki dan nyaman dengan salah seorang, sebuah kelompok, atau pengamat sesuatu dalam kadar yang sedikit. Saya tidak pernah memiliki mereka dalam jumlah banyak. Mungkin cukup selektif untuk mengatakan mereka sebagai teman terlebih sahabat yang lebih identik dengan saudara itu. This me. ...
Hingga kini, menginjak bangku perkuliahan saya berada di lingkaran tertentu dengan tidak menaruh harap pada mereka. Kamu yang menemukan tulisan ini pasti menebak bahwa saya ... bla bla bla dan bla bla bla, tetapi bukankah kenyamanan dan keluar dari zona nyaman adalah suatu keberhasilan beradaptasi yang baik?
Keberhasilan itu dekat bagi yang rajin. Ya, rajin. Dan, teramat jauh bagi yang malas. Hadist ini menjadi kulit dalam keseharianku, "Bertemanlah dengan penjual minyak wangi maka kau akan tertular wanginya. Mendapat semerbak pula, tetapi jangan berteman dngan pengasah. Sebab, akan pula kau seperti itu." Kulit inilah yang menjadi tameng berarti. Membantu saya memilih one of them dan menaruh dunia di tangan pun akhirat. Tak lupa, di hati juga. Menaruhnya sebaik adanya sehingga tidak ada amal yang terdzalimi dalam pelaksanaannya. Bukankah mendzalimi amal = mendzalimi diri sendiri?
Hm... Ada yang mengumpakan, amal dunia yang berat, perlakuan-perlakuan dunia yang berat dibanding amal untuk akhirat lebih buruk dari seekor bangkai kambing yang cacat.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi Allah
daripada pendapat kalian tentang anak kambing ini.”
(HR. Muslim)
Bersahabat, dunia, isinya, dan kegamangan lain antara dua dunia: barzah dan duniawi. Bagi timer waktu yang baik, hidup mungkin adalah lotre dimana peruntungan dari kantong ajaib doraemon dengan dorayaki atau kantong ajaibnya adalah hal mutlak. Sehingga, kita tidak perlu ini dan itu dengan susah payah.
Sejauh ini, kekasih (hahaha) yang melekat adalah sajadah dan buku. Sajadah adalah tempat dimana saya dapat mengais segala dengan baik tanpa perlu malu. Saya tidak lupa dan sengaja melupakan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Well, buku baik itu alqur'an dan buku lainnya, saya akan membaca mereka dengan lahap. Bahwa buku yang kita miliki pernah disentuh oleh penulisnya,
yang menerakan tandanya dalam lembar pertama, ah itu indah bukan? Saya begitu bahagia tatkala buku dan sajadah dapat menyatu. Buku, sajadah, menyatu? Yang udah tua dan jomblo pasti mikirnya ... :D
Dalam pertemanan, ada satu rahasia besar. Jangan pernah mengatakan, untuk apa kita berteman dengannya terhadap orang lainnya. Simple, beberapa orang membutuhkan penjelasna mengapa sedang lainnya membutuhkan kenyataan itulah kalian. Langgeng, ya.
Kita punya bahasa, hanya perlu dikeluarkan dari dalam; dengan
membuka jiwa kita yang tertutup atau membelah pikiran kita yang karatan.
dy. kendari, 5 Februari 2016 | 10:55 am
Komentar