Bahagia itu Sederhana

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram (Ar-rad: 28) 

Bismillahirrahmanirrahim.
Nun, demi pena dan apa yang telah mereka tuliskan. 
     Saya merasa tidak asing dengan dunia ini tetapi saya harus bergedik panjang saat menanti keputusan panjang. Keputusan setahun. Keputusan yang tidak mainmain. Saya masih merasakan bagaimana kelunya lidah saat mengucap visi dan misi yang sama sekali tidak saya persiapkan. Benarbenar tidak ada perasaan termasuk amunisi mental. Alhasil, saat nama pemberian diucap untuk bersilah ke depan, saya harus menahan tangis. Luapan emosi itu terus berlanjut hingga visi misi berakhir. Sama sekali tidak tahu apa, bagaimana, tetapi itulah. Dia adalah saya.

     Komitmen panjang, diskusi ilmiah, debat kandidat, semua terlewati. Tawa renyah, siulan pendek, tepuk tangan silih berganti, pun matamata tajam yang awas. Saya tidak dapat melihat mereka satu persatu. Ada yang saya tak ingin lihat. Ada yang saya hindari. Terkadang, saya merasa seperti tengah curhat.

     Allah tidak akan menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur. 

     Alhamdulillah. Dia masih membersamai. Hingga ketuk palu menjelma ketakutan beringas. He likes a man who would be killed me. Tetapi, Tuhan tak pernah berhenti membuka mata ini, sebagai jendela untuk melihat kebenaran. Tantangan ke depan semakin jelas. Ada jeda sejenak. Jalan ini tak begitu mulus, tetapi Dia benarbenar menyempurnakan niat ini. Bersama orang-orang hebat, bersama orangorang kuat, bersama mereka saya bisa. Karena bersama, kita bisa. Karena kami adalah keluarga, we'r a team. A great team from a little family. 

Sungguh jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu & jika kamu ingkari maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim:7) 

     The last, saya masih menapak untuk benarbenar siap hadir di antara orangorang prestatif ini. Masih banyak pijakan tangga yang belum terlampaui. Bersyukur, mereka dapat menerima arti kehadiran diri ini walau tak menampik beberapa sulit. Tidak ada amanah yang salah pundak, tidak ada jiwa pengingkar sebagai pengemban. Bukankah ini sulit? Ya, tetapi saya akan terus memaknai, meresapi,menyelami, dan mencintainya.

    Bukankah sekarang, separuh diriku adalah miliknya?

 "Bahagia itu sederhana,
sesederhana memberi senyumah hangat penuh semangat untuk mereka."




Dy A. Said. Kendari, 2 Februari 2016 | 8: 0B am
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a