Gadis itu anakmu, Ayah
Dibawah sinar terik sang surya, seorang lelaki dengan penampilan
lusuh tak terurus tengah duduk bersiul didepan sebuah toko. Tidak sedikitpun
terlihat raut wajah kegusaran ditengah krisis ekonomi yang melanda negeri
agraris ini. Sorot matanya liar, dengan sebatang rokok ditangan kirinya.
Sesekali ia hisap lalu hempaskan membentuk rancu, seperti kepulan asap bak air
mendidih yang baru dibuka tutupnya.
Tidak jelas kemana ia
akan berjejak, walau mempunyai istana sendiri yang berdiri megah di kota metropolitan bersama seorang
ratu juga seorang putri mahkota. Yah, putri mahkota.
“Namun dia tidak memiliki wajah yang serupa
denganku. Golongan darah kami berbeda. Lalu, mesti kusebut apa dirinya? Anakku?
Oh tidak, akan kuungkap siapa dia sebenarnya,”ujarnya ketika ditanya seorang
kerabat
Rena, gadis manis
yang kini tengah beranjak remaja. Bagaikan di sebuah negeri dongeng, hidup
bahagia dengan segala bentuk kesyukuran akan karunia-Nya akan ia jalani. Namun
dongeng adalah dongeng dan tetap akan menjadi dongeng, tidak pernah menjadi
kenyataan. Memiliki sepasang malaikat
yang mengasuhnya sejak kecil dengan
penuh kasih sayang, cinta, dan kelemah lembutan. Itu dulu, kini hidupnya
menggantung, hanya penuh tangisan. Ayah…
Permasalahan mengenai Rena terus menerus
menjadi perdebatan ketika pertemuan rutin keluarga besar Surya Kusuma.
“Rawatlah Rena seperti anak kandungmu. Ayah
melihatnya tak ubah seperti dirimu saat dahulu. Sangat lincah, tidak pernah
berhenti bergerak ke sana-kemari, membuat kami gusar. Iya kan ma?”kata Ayah Surya
“Iya nak, apa yang dikatakan Ayahmu benar.
Biar waktu yang ‘kan menjawab semua. Anak adalah titipan Yang Kuasa,”timpal
Ibunda Surya Kusuma
Seluruh keluarga amat menyayangi Rena, termasuk istri Surya,
Nyonya Sekar Putri Andinaningtyas. Entahlah, mungkin Surya belum dapat menerima
semua secara logika. Keluarga sangat yakin bahwa Rena adalah putri, cucu, dan
adik kesayangan mereka. Jika diamati, Rena memiliki wajah yang serupa dengan
ibunya, netra yang indah berwarna kecoklatan persis seperti yang dimiliki Surya
Pratama. Namun Tuhan berkehendak lain. Disaat bisnis keluarga tengah mengalami
pasang surut, masalah itu muncul.
***
Surya Pratama, siapa
yang tidak mengenal putra tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar
se-Indonesia. Kekayaan keluarganya termasuk dalam jajaran Sepuluh orang paling
kaya dan berpengaruh di Indonesia. Mereka menyadari hal itu, dan sebagai salah
satu perusahaan yang menghidupi ribuan pegawainya, Perusahaan Radika Pratama
amat disegani para karyawannya. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan berperan
dibidang konstruksi ini amat royal terhadap pemberian upah karyawan. Untuk tunjangan
hari raya mereka menerima Tiga kali lipat lebih besar dari perusahaan lain.
Makanan dan keselamatan jiwa mereka
selama mengabdi pun ditanggung. Terlebih Presiden Direktur Utama mereka, Radika
Aditya Pratama merupakan fitur pemimpin teladan, berwibawa, ramah dan santun.
Ia tidak enggan untuk sekedar berbaur, bercanda, dan bercengkrama dengan para
karyawannya tiba waktu istirahat.
“Seandainya
seluruh pemimpin perusahaan di Indonesia seperti Pak Radika, pasti
Negara kita akan lebih sejahtera dan tentunya tidak akan ada ribuan buruh diluar sana yang akan
berorasi menuntut hak mereka. Betapa beruntungnya kita,”kata seorang pekerja
“Iya, benar pendapatmu Pak Man, aku sangat bersyukur bisa bekerja diperusahaan ini. Yah,
walaupun terkadang kita mesti lembur namun itu semua tidak sebanding dengan
berbagai fasilitas yang diberi pimpinan,”tambah seorang buruh
“Lalu bagaimana pendapat Bapak-bapak tentang anak beliau? Kudengar
dari kabar yang beredar, kurang lebih tiga bulan lagi, Pak Radika akan cuti
panjang dari kursinya dan tentu jabatan tersebut akan ia berikan pada putra
tunggalnya, Mas Surya. Saya sih….”belum
sempat pria yang dikenal dengan nama Pak Man meneruskan perkataannya dari jauh
terlihat Pak Surya dan seorang mandor
yang menangani masalah konstruksi lahan di areal Cempaka tengah menuju ke
mereka.
“Selamat siang Bapak-bapak, bagaimana
pekerjaannya? Ada hambatan?”sapa Mas Surya ramah
“Alhamdulillah, hingga saat ini semua
berjalan lancer mas,”sahut seorang buruh
“Kalau ada keluhan, jangan sungkan-sungkan
beritahu kami Pak. Untuk mencapai sebuah
kesuksesan dibutuhkan kerjasama. Dan tentu, Bapak-bapaklah yang berperan besar
dalam segala hal. Ayah saya amat menyukai kinerja kalian semua dan tentu
berharap semoga kita akan bekerja sama untuk seterusnya.”tambah Surya Pratama
Para buruh hanya
bersungut-sungut, ada yang mensyukuri dan juga ada yang kesal dengan anak
semata wayang Radika Aditya Pratama.
Nampaknya akan ada sebuah
konspirasi besar nanti.
“Kau
kira aku senang melihat kalian
bahagia hah? Akan kuambil semua hakku
yang telah kalian rampas. Bahkan kebahagiaan keluarga kecil itu, akan kubuat
seperti tsunami Aceh Tiga tahun silam..”suara angin yang sumbang mendesah
Tiga bulan kemudian…
Kursi Presiden
Direktur Perusahaan Radika Pratama kini resmi diduduki Surya Pratama, pewaris
tahta satu-satunya bisnis keluarga Radika Pratama. Ia tampak gagah di acara peresmian tersebut,
dengan menggandeng seorang wanita cantik berparas kemayu, sangat serasi. Maju
kedepan podium, memberikan sambutan hangat pada para hadirin yang terdiri atas
karyawan, kerabat, juga para kolega bisnis, Surya nampak begitu percaya diri
dan sangat berwibawa. Seperti ayahnya…
“Mari
anak manja, kita bertarung. Akan kubuat kau hancur berkeping-keping. Ingatkah
dirimu pada tsunami Aceh saat itu? Kau akan membayar seluruh kesepianku, anak
manja!”suara itu mengudara pelan diantara ratusan tamu Radika Pratama
“Wanita yang sempurna,
kapan kalian akan melangsungkan akad nikah Surya?”sapa Om Arda,rekan bisnis
sekaligus sahabat Radika Pratama
“Rahasia dong, tunggu undangan aja deh,”sahut
Surya
“Oke, Om akan menunggu. Padahal sebenarnya
kalau Nak Surya menginginkan, Om ingin kamu berjodoh dengan Rahayu, putri Om.
Kamu ingatkan?”
“Hehe, iya Om. Mana mungkin aku lupa sama
teman semasa kecilku yang ngegemesin..”
“Baiklah, Om harap acara akbar itu segera
terlaksana. Secepatnya yah Nak Surya, Nak Andin,”kata Om Arda sambil berlalu
“Nampak
raut wajah penuh kekecewaan,”batin Andin
Acara serah terima
jabatan berlangsung begitu meriah. Suasana kekeluargaan yang begitu hangat,
tidak disadari ada sepasang netra siap menerkam dibalik cahaya..
***
Sembilan bulan telah
berlalu, kini Andin telah siap untuk melahirkan peri kecilnya, peri kecil
Surya. Menanti dengan penuh kecemasan,
seluruh keluarga Radika telah berkumpul tidak sabar menanti detik-detik
berharga tersebut. Lima belas menit berlalu, suasana begitu hening, tidak ada
sepotong suarapun yang keluar terdengar. Hampir saja Surya mendobrak pintu
ruang bersalin, dan oeee… oeee….suasana menjadi haru ketika bayi mungil itu
menyapa. Pak Radika dan istri akan
segera menjadi eyang dan Surya dan istri kini telah menjadi orangtua. Mereka
memiliki seorang putri kecil yang lucu.
Syukur nikmat tidak sedikitpun lepas dari bibir para calon kakek-nenek dan ayah
itu.Nampak sebuah kebahagiaan tidak ternilai apapun…
“Surya, segeralah masuk kedalam dan
kumandangkan adzan pada peri mungil kami,”kata Ayah
“Iya Ayah,”bergegas Surya memasuki ruang
bersalin, mengecup istri dan anaknya
lalu mengumandangkan adzan serta iqomah pada peri mungil nan lucu itu. Sangat
menggemaskan..
Keluarga baru itu
kini lengkap sudah. Kondisi dirumah
berubah, menjadi ramai dengan candaan si kecil. Bahkan Radika dan sang istri
lebih sering menginap dirumah Surya dibanding bertolak ke istana mereka. Sepi
katanya.
“Ayah, Ma, Pa…”teriak Andin semampunya. Tidak
ada jawaban, terus menerus ia berteriak
“Ada apa Andin, kenapa nak?”tanya Mama, ibu
Radika
“Rena ma, Rena. Rena demam,”
Tanpa dikomandoi,
Nyonya Radika segera mengambil air hangat dan mengompres tubuh mungil peri
mereka. Andin bergegas menelpon dokter pribadi
Keluarga Radika Pratama dan juga suaminya. Tak urung, seluruh rapat hari
ini ditunda oleh sekertaris Surya.
Rena kecil semakin panas, ia pun menangis
sekuat tenaga, keluarga semakin dibuat panic. Dokter yang dihubungi pun tak
kunjung tiba. Akhirnya, gadis itu dibawa kerumah sakit terdekat.
“Selamatkan
Putriku ya Allah..”pinta Surya
Terlihat semua bibir
berkomat-kamit, bahkan terlihat Kristal bening menetes ditiap penghujung
kelopaknya. Ahh, apa yang terjadi?
“Tunggu
sayang, sedikit lagi semua akan berakhir. Dan aku akan pergi menjauh dari
kehidupan kalian..”suara angin itu kembali bergeming
Gadis mungil berusia Tiga tahun, kini tengah
terbaring lesu. Ia membutuhkan banyak darah, namun pasokan darah yang
dibutuhkan sedang tidak ada. Rumah
sakitpun dibuat kalang kabut, Kantor PMI setempat dihubungi namun hasilnya
nihil. Sama sekali tidak ada apapun..
“Dok, bagaimana jika saya saja?”usul Surya
“Saya juga dok, saya Ibunya,”sahut Andin
Dan diluar dugaan,
tidak ada darah yang cocok dengan sampel darah milik Rena kecil. Beberapa kali
tes dilakukan, namun hasilnya tetap sama. Seluruh keluarga dibuat terpukul
karena kejadian itu. Bahkan Surya sempat menuding bahwa Rena adalah anak hasil
hubungan gelap Andin sebelum menikah dengannya. Tak pelak, semua keadaan
menjadi begitu serius. Setelah diyakinkan dan karena kasih Surya yang teramat
besar pada Andin, maka ia pun memercayai gadis pilihannya. Satu-satunya alasan
logis; Rena tertukar dirumah sakit dimana ia dilahirkan. Faktanya, tidak.
Seseorang dengan sengaja telah membuat
sebuah sandiwara yang sempurna. Menukar sampel darah pasangan muda yang baru
mengecap indahnya anugrah Tuhan akan karunia gadis, peri, putri kecil mereka
yang tak tahu apapun itu dengan sampel darah milik orang lain dan tersenyum
puas meninggalkan rumah sakit. Tanpa
jejak, ia berhasil membuat keluarga Radika nyaris berantakan.
Surya
menjadi frustasi dan sering bepergian keluar. Jarang pulang, menjadi bang Toyib
bagi keluarga kecilnya, terlebih kini ia
mengabaikan putri kecilnya, Rena. Andin, dan kedua eyang Rena dibuat semakin
kalut dan bingung bagaimana mereka harus menghadapi Surya.
“Surya, anak kita tidak lagi belia. Ia telah
dewasa, percuma kita memberikan petuah, dia telah mengerti arti kehidupan.
Usianya telah cukup dewasa untuk
mengerti semua,”ucap Nyonya Radika
Radika hanya bisa
terdiam membenarkan perkataan istrinya. Anak mereka telah mempunyai
tanggungjawab tersendiri. Bahkan telah memberikannya seorang cucu. Peri mungil
yang kehadirannya amat dinanti. Dan kini setelah kejadian itu, lima belas tahun
berselang, Rena tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, dermawan, pandai, dan anggun. Cucu kebanggaan mereka, pewaris tahta
kerajaan bisnis Radika Pratama. Ia yakin, Rena adalah cucunya. Begitu juga
kerabat yang lain. Entah mengapa, Surya belum dapat menerima kenyataan itu.
Rena tidak pernah mengeluh apapun mengenai
ayahnya.
Ruang, 31 Desember 2022
Jika
saja ayah mau duduk disampingku, memelukku seperti Ibu juga eyang bahkan
menyanyikan lagu sebelum tidur juga mendongengiku. Ingin sekali kurasakan semua
hal itu. Esok, 1 Januari 2023 usiaku tepat Sembilan belas tahun. Dan ayah tidak
akan hadir, menampakkan senyumnya padaku. Diusiaku yang kesembilan belas esok,
belum sekalipun ayah tersenyum dan menyapaku. Apakah aku pantas untuk tidak
dianggap? Apa yang harus kulakukan untuk mendapat pengakuan sebagai
putrinya? Bahkan tanpa sepengatahuan
siapapun, aku mengambil sehelai rambut Ibu dan Ayah untuk memastikan
keberadaanku di keluarga ini. Hasilnya, positif. Aku putri tunggal mereka,
Putri Andrena Ekapratama. Maafkan Rena, Ayah, Bunda, eyang dan seluruh kerabat
Rena Ya Rabb. Mungkin, dan pasti. Rena percaya bahwa semua akan indah pada
waktunya. Rena akan tetap menanti senyum ayah, pelukan ayah, juga…. Ayah, aku
menyayangi Ayah. Tak bisakah ayah menyayangiku seperti Ibu, Eyang, Om, Tante, dan
mereka diluar sana yang menyayangiku. Waktu, jawab aku dengan kisah yang kau
pendam. Biarkan ayah menjadi milikku sekali saja. Aku khawatir, esok, lusa
bahkan mungkin sebentar sebelum aku sempat make a wish, Ia akan memanggilku.
Hm, Rena ngantuk diary. Salam kangen terhangat paling manis yang merindu
dariku, Peri mungilnya dahulu. Kata ibu sih, aku dahulu peri, bidadari, dan
putri kecil kebanggaan Ayah…
Cintaku tak mengenal ruang, waktu
Cintaku tulus,
Cinta, apa itu cinta?
Bongkahan es batukah yang siap dipecah?
Bersama rinai malam
ini, aku ingin bermimpi bertemu pria yang paling ku cintai. Diruang rindu, yang
tak terbatas ku kecup pipimu Ayah. Dalam kekalutanku, kau adalah sayap yang
selalu melindungiku. Sinarmu tak kunjung padam, Ayah. Ayah, ayah, dan ayah..
Ayah, aku akan mencoba bertahan selagi aku mampu. Aku anakmu ayah. Tidakkah
tersadar olehmu akan ikatan batin antara kita?
Kuharap, bertemu ayah
besok. Selagi aku belum dipanggilNya. Sesungguhnya, jiwaku tak mampu lagi
menahan raga yang siap menjelajah, aku sakit ayah. Rena sakit, yah. Kata
dokter, kanker otak stadium Tiga. Parahkah itu Ayah? Semoga besok, Rena dapat
memakai gaun terindah yang Rena rancang dihadapan Ayah, mengecup pipi Ayah dan
Ibu. Dan Rena, akan pergi tuk selamanya dari
kehidupan Ayah.
***
Diluar sana, seorang pria separuh abad tengah
menyeringai. Gila.
“Sampai kapanpun kau bukan anakku!”kecamnya
Begitu mudah
huruf-huruf itu dirangkainya menjadi kata, untuk Rena. Gadis itu hanya menahan
tangis, tetap terlihat tegar. “Mengapa
ayah mengacuhkanku?”. Mengapa ayahnya sendiri tidak dapat berpikir sejernih
air untuk menerima kehadirannya; Lagi. Seperti dahulu. Bahkan Rena masih
sanggup berjalan untuk mencium tungkai tangan ayahnya. Betapa ia memiliki hati
sekuat baja, mungkin jelmaan titanium.
Rena, begitu pahit
dan kuat kau jalani hidupmu. Untuk kesekian kalinya, kau menegarkanku kembali.
Tanpa ia tahu, ayahnya kini tengah menjalani tes kejiwaan disebuah rumah sakit
jiwa. Disebuah kota yang jauh dari pemukiman warga, ayahnya untuk sementara akan
menempati villa keluarga di wilayah Bogor. Juga; tanpa sepengetahuan siapapun,
waktu yang telah ditentukan dokter untuk Rena mengucap salam perpisahan pada
dunia adalah seminggu lagi. Sangat singkat, namun siapa yang mengendalikan
waktu? Manusia hanyalah makhluk biasa. Diri-Nya yang berkehendak. Kun fayakun.
“Semua manusia pasti akan kembali, tidak ada
yang abadi. Ayah, dalam diamku aku merindumu. Dalam sepi, ku dekap dirimu dan
bersama waktu yang telah kurekam, aku tetap disampingmu.”kata Rena sambil mengepak
seluruh barangnya, seakan-akan dia pergi untuk waktu yang lama. Tidak lupa juga, surat kecil bersampul biru
dengan tiga rangkaian mawar ditiap surat ia selip. Untuk Ibu, Eyang Kakung, dan
Eyang Putri. Sembari tersenyum, ia bergegas menemui bintang dan rembulan yang
tengah mengintipnya sedari tadi.
“Sampaikah potret senyumku pada Ayah?”ucapnya
lirih pada semesta
Komentar