Ohayo Gozaimasu
Ohayo...
Saat menuliskan ini sebenernya terpikir untuk menuliskan yang lain sebelumnya. Saya lebih memilih ini dibanding yang itu.
Dadaku masih sesak. Sejak perjalanan panjang dan singkat nan padat :D pekan pertama Desember lalu, itu masih terasa sampai sekarang. Tiba-tiba gelap atau kemudian mual yang entah tak tersalurkan semakin menjadi. Desember memasuki pekan ketiga dan semua berjalan seakan tak ada yang terjadi. Apapun. Mencoba untuk semakin malas tahu.
Ibu-ibu di depanku memakai baju kuning menenteng sebuah tas mini. Merangkulnya seakan takut kehilangan kemudian tersenyum lalu cepika-cepiki sesama rekan sejawatnya. Dia nampak begitu sumringah. Mobil lalu lalang di belakangku. Sesekali roda dua tak sungkan lewat di hadapan. Suara ketukan bungkus rokok 'mungkin' nyaring terdengar. Knalpot bising hingga angin. Semua terjadi begitu saja.
Aku melihat seorang lelaki membuka pintu. Menunduk dan berlalu. Tak jauh, lelaki berbaju putih awas menatap. Memerhatikan tiap inchi jalur masuk kendara. Itu sudah tugasnya, bukan? Sesekali jika ada kendara yang melewatinya, ia akan tersenyum sembari mengangkat tangan kanannya; menunjuk dimana pintu keluar berada. Selalu seperti itu.
Ini kali tak ada siapa-siapa. Tak seperti biasa. Di usia pagi yang menunjuk 8.24 am. Termasuk, tugas akhirku sebagai seorang mahasiswa akhir. Seperti itu. Belum berubah. Entah.
Ponselku berdering. Sebuah pesan singkat wasap. Aku suka membiarkan semuanya menumpuk kemudian membaca tiga sampai lima teratas setelahnya menghapus seluruh chat tanpa ingin membacanya. JAHAT.
Satu dua pesan bertuliskan salam. Cukup menjawabnya dalam hati. Tak perlu di balas. Namun, jika sedang dalam suasana sumpek dan sekadar menjaga perasaan si dia, mau tak mau pesan itu harus berbalas salam. Oke, masalah pen-cuek-kan pesan terselesaikan.
Di sisi lainnya, ponselku gaduh. Beberapa pesan masuk nyaris mengomel sebenernya; mengapa mereka tak dapat mengiriku pesan? Just one checklis dari zaman baheula hingga sekarang. Menanyakan perihal pemblokiran dan lain sebagainya.
Aku meneguk segelas air. Menghabiskannya perlahan. Mengingat separuh bubur ayam yang tak kuhabisi kemarin. Mengingat betapa lambannya aku mengunyah. Mengingat pesan nenek, "Semakin lama kamu makan, semakin lama juga jodohmu akan tiba, Nak. Jangan memperlambat proses."
Oke, baik. Aku berjanji untuk tidak lagi makan dalam standar waktu nenek yang katanya lama. Aku meneguk segelas air (lagi). Membiarkan perutku terisi air. Aku masih merasa kosong. Entah perasaan apa ini.
Kerupuk di samping piring buburku nyaris melempem. Porsi terlalu banyak yang diberikan dan indera pengecapku sedang tidak benar-benar baik. Aku bahkan seminggu ini rutin mengkonsumsi air berwarna. Tak lagi putih. Itu membahagiakan tetapi cukup mengurus kantong yang semakin tandus.
Nenek tak pernah lagi memerhatikanku untuk makan. Aku sudah lama tak berjumpa dengannya. Terakhir 2015 lalu saat lebaran idul fitri. Aku menyambanginya dan dia masih sama memberi petuah. Petuah yang kian giat diberi saat bertemu adalah perihal masa depan separuh din.
Tak dapat dipungkiri, usiaku semakin bertambah. Haha. Ini menjadi bahan ledekan untuk aku, kedua adikku, dan ibu. Selisih usiaku dan ibu tidak terpaut jauh. Thats funny. Kami dapat menjadi sahabat, teman; tentu. Aku tidak terlalu memikirkan masalah genap menggenapi. Fase tersebut pada akhirnya akan terlewati. Aku mengkhawatirkan anak-anak yang kerap bertemu denganku di tiap pekannya. Bagaimana nanti aku bakal meninggalkan mereka. Meninggalkan sejuta cerita, emosi, dan pertanyaan.
Kita akan berpisah. Baik dalam waktu dekat maupun nanti. Nanti yang belum dapat dipastikan kapan. Kita akan saling mendoakan. Itu pasti. Menitipkan nama di tiap doa dan tengadah tangan pada Rabb.
Angin kian berembus. Kondisi tubuh yang sangat lemas tidak memungkinkan. Namun, dia adalah dia yang sok tegar. Yang menyembunyikan pucatnya dibalik mekap tipis juga polesan lipbalm. Dia bukan apa bukan siapa. Dia hanya dia.
Dia hanya seorang biasa. Yang pernah hujan-hujanan menghadiri sebuah temu awal kepengurusan akibat mengiyakan sebuah sms. Dia yang begitu polos menghadiri rapat sesuai waktu kesepakatan walau rapat di mulai sejam bahkan dua jam setelahnya. Dia yang begitu bertemu kawan berdiskusi hadir di awal tetapi mulai berdiskusi ketika maghrib menggema. Dia yang entah siapa dirinya hingga kadang tak dapat menguasai dirinya sendiri. Dia dapat menjadi seorang yang beda dalam satu waktu. Dia yang ketika belum bersapa akan menjadi begitu dingin kemudian menjadi sebaliknya ketika telah akrab. Dia pandai mencuri perhatian orang tetapi tidak dengan mencuri perhatian dirinya sendiri.
Sebut saja dia. Lalu dia akan berbalik kemudian tersenyum dan berkata, "Iya, ada yang panggil saya?"
8.45 am. Semakin dingin. Semakin banyak yang berdatangan. Semakin kedutan mengitari bagian atas tubuh. Semakin diam. Semakin tak dapat menjadi diri sendiri.
Kotak masuk emailku nyaris 300 untuk kotak utama. Entah bagaimana dengan pilahan kotak lainnya. Ada yang terlewat baik segi akademik, prestasi, dan DIA.
500an pesan wasap terabaikan. 4400an pesan tele tak tergubris. Ratusan twit yang berkicau tak dilirik. Juga, kamu yang lalu lalang.
Dari sini kukatakan selamat pagi. Ohayo. See you
Kendari,20 Desember 2017
Seorang pembelajar
diah a. said

Komentar