Januari

Aku dan Januari tengah merancang ide gila. Ini bukan tentang pertemuan yang disengaja tetapi sebuah ketidak sengajaan yang pada akhirnya kami menyepakati untuk disengajai. Kami benarbenar untuk hal seperti ini. Padahal kami dulunya tidak seperti ini tetapi seperti itu, hehe.

Januari pada awalnya adalah sebuah nama. Sebuah nama yang tidak kusukai dengan baik dan kami memaksa untuk berbaikan sebab setelah perkenalanperkenalan singkat, kami merasakan kecokcokan satu dan lainnya. Dia penyabar, aku? Tentu sebaliknya.
___

Well, this my year.
___

... hati yang terjaga, meskipun pernah patah tetap akan selalu menang dibanding hati yang tak terjaga meski tak pernah patah. Masih dengan luka yang sama akibat jatuh pada kesalahan yang sama. Ia tetap utuh. Tak terkoyak, menanti keputusan hati. Olehnya, tak ada salahnya berjalan bersama dengan meninggalkan sayatan pada kanvas. Sebab kita harus meyakini bahwa hati yang baik, dijaga dengan hatihati akan kembali pada peletakannya. Berpulang bahagia.

Kita sering melupakan. Lupa bahwa benar kita tak ingin kecewa. LUPA bahwa seberapa jauh kita saling mengenal, sejauh kita berharap, sekuat apapun pertahanan, jika bukan orang yang tepat maka kita tetap akan dipisahkan.

Januari selalu berkisah di tiap temu. Perihal dasi yang tak cocok dengan padanan warna baju, aku yang mengagumi batiknya, dia yang tak suka rambutku dikuncir, aku yang tak suka rambut alaynya, dia yang pencemburu, juga kita yang samasama menyukai pelangi serta menikmati senja bersama potongan-potongan gorengan berbau keju ditambah segelas sarabba (yang kerap dingin karena kelamaan diasapi bualan).

Kemudian, aku di tiap pulangnya selalu menulikan namanya di balik keping foto. Foto yang baik disengaja atau tidak kami ambil. Foto yang terkadang ingin dibuang tetapi sayang.

Aku mulai sering menatap punggung Januari sedari jauh. Mengapa tak November saja namamu? tanyaku di hujan yang malumalu. Jawabmu, sebab kau tak akan mengenalku barangkali jika aku bernama November. Bersyukurlah mengenalku.

Jan, kau tahu? Kamu kian hari kian menyebalkan. Langit kamarku berisi beberapa potong wajahmu dan barangkali, aku mulai belajar menyukai potongan itu. Kini aku berniat membuangnya. Hanya luka!
 ___

Aku dan Januari kian menggila. KINI bukan lagi sekadar merancang tetapi melaksanakan ide konyol. Tanpa disengaja, kami menuliskan ini untuk kami jawab di pertemuan yang entah akan terjadi setelah perpisahan itu:
... dari dulu, mungkin aku gak pernah jadi siapa-siapa buat kamu. Setelah aku pergi,apakah harapan itu masih sama atau memang tidak ada sama sekali?
 ___

 Tidak. Bukan apaapa. Aku tidak mengerti: Bagaimana cara menjaga agar detak jantungku tetap stabil saat berada dalam radius kehadiranmu?
___

..


.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 7 Januari 2017 | 2.12 pm
  RA1.2 FKIP UHO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a