Tanya Anak Pesisir
"Pak, laut adalah kehidupan." kataku dengan suara penuh. Gelombang deru tak mengizinkan berbicara pelan. Dari sini, matahari terlihat indah saat terbenam. Meninggalkan jejak merah untuk langit. Menyisakan luka.
"Semuanya adalah kehidupan. Dicipta-Nya sebagai pelengkap, Nak. Kau tidak dapat men-judge..." Panjang lebar bapak menjelaskan. Hati tidak diam. Logika berpikir cepat. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang mengandalkan perasaan, aku lebih menyukai menyeimbangkan logika dan perasaan. Perempuan itu sensitif.
"Pak, matahari tinggal separuh. Kapan pulang?"
"Sebentar lagi. Tidurlah sebentar, Bapak akan menjaring jala sekali lagi lalu kita pulang."
Lelaki itu berkata seakan matahari tepat sejengkal di atas kepala. Gadis kecil di sampingnya menatap jauh ke bibir pantai yang tak nampak. Mencari bayang ibu dan kedua adik kecilnya: Farhan dan Fariz.
Mungkin, mencintai adalah seperti ini. Setia menanti. Setia mengabari. Setia bersama.
Mungkin, menyayangi adalah seperti ini. Sedia menanti.
"Nak, bangunlah. Bawakan ikan-ikan ini ke darat." Lelaki dengan ketampanannya di wajah yang mulai mengeriput memberikan satu nampan kecil. Beberapa ekor ikan terisi. Tak sampai sepuluh: Cukup untuk makan hingga seminggu ke depan. Musim barat telah menanti. Kehidupan darat akan mengalami paceklik. Ah, nampaknya besok akan menjadi waktu terpanjang untuk aku temani bapak menebar jala. Sementara ibu, si wanita tegar siap menanak nasi dan garam untuk kami.
Entah, kelak akan jadi apa kami: Anak pesisir. Di dada lelaki yang kupanggil bapak dan wanitanya, nyawa-nyawa bertaruh mempertahankan tubuh mereka. Detak jantung yang berdegup kencang seakan tak lagi mereka perdulikan. Tutupi dengan senyum.
Malam ini, sepiring nasi, garam, dan sepotong ikan menjadi santapan lezat. Kedua adik kecilnya tertawa riang memainkan ikan-ikan tanpa pemilik di dapur. Mereka belum paham apa yang akan terjadi esok. Ombak-ombak ganas siap menerkam. Tuhan sedang berbaik hati menguji kami. Untung, bapak dilahirkan sebagai pria tangguh dan pelaut handal. Jika tidak, mungkin aku dan bapak tidak akan kembali lagi ke gubuk ini memberi makan ketiganya.
Malam ini, sapuan-sapuan ombak kejam meneror bibir pantai kami. Bapak dan ibu terduduk di luar. Menatap jauh ke sana: tempat mentari terbenam. Esok akan menjadi hari yang lebih baik. Tuhan selalu menolong kami. Di usiaku yang beranjak dua belas tahun, aku bertanya: Seberapa besar cinta seorang wanita pada lelakinya? Seberapa besar cinta seorang lelaki pada wanitanya? Seberapa ingin mereka mencurahkan kasih pada buah hatinya?
Wahai malam, beritahu aku cara menuntaskan rindu.
.
.
.
.
Dy. Sepanjang Raha-Kendari, 2 Juni 2015
"Semuanya adalah kehidupan. Dicipta-Nya sebagai pelengkap, Nak. Kau tidak dapat men-judge..." Panjang lebar bapak menjelaskan. Hati tidak diam. Logika berpikir cepat. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang mengandalkan perasaan, aku lebih menyukai menyeimbangkan logika dan perasaan. Perempuan itu sensitif.
"Pak, matahari tinggal separuh. Kapan pulang?"
"Sebentar lagi. Tidurlah sebentar, Bapak akan menjaring jala sekali lagi lalu kita pulang."
Lelaki itu berkata seakan matahari tepat sejengkal di atas kepala. Gadis kecil di sampingnya menatap jauh ke bibir pantai yang tak nampak. Mencari bayang ibu dan kedua adik kecilnya: Farhan dan Fariz.
Mungkin, mencintai adalah seperti ini. Setia menanti. Setia mengabari. Setia bersama.
Mungkin, menyayangi adalah seperti ini. Sedia menanti.
"Nak, bangunlah. Bawakan ikan-ikan ini ke darat." Lelaki dengan ketampanannya di wajah yang mulai mengeriput memberikan satu nampan kecil. Beberapa ekor ikan terisi. Tak sampai sepuluh: Cukup untuk makan hingga seminggu ke depan. Musim barat telah menanti. Kehidupan darat akan mengalami paceklik. Ah, nampaknya besok akan menjadi waktu terpanjang untuk aku temani bapak menebar jala. Sementara ibu, si wanita tegar siap menanak nasi dan garam untuk kami.
Entah, kelak akan jadi apa kami: Anak pesisir. Di dada lelaki yang kupanggil bapak dan wanitanya, nyawa-nyawa bertaruh mempertahankan tubuh mereka. Detak jantung yang berdegup kencang seakan tak lagi mereka perdulikan. Tutupi dengan senyum.
Malam ini, sepiring nasi, garam, dan sepotong ikan menjadi santapan lezat. Kedua adik kecilnya tertawa riang memainkan ikan-ikan tanpa pemilik di dapur. Mereka belum paham apa yang akan terjadi esok. Ombak-ombak ganas siap menerkam. Tuhan sedang berbaik hati menguji kami. Untung, bapak dilahirkan sebagai pria tangguh dan pelaut handal. Jika tidak, mungkin aku dan bapak tidak akan kembali lagi ke gubuk ini memberi makan ketiganya.
Malam ini, sapuan-sapuan ombak kejam meneror bibir pantai kami. Bapak dan ibu terduduk di luar. Menatap jauh ke sana: tempat mentari terbenam. Esok akan menjadi hari yang lebih baik. Tuhan selalu menolong kami. Di usiaku yang beranjak dua belas tahun, aku bertanya: Seberapa besar cinta seorang wanita pada lelakinya? Seberapa besar cinta seorang lelaki pada wanitanya? Seberapa ingin mereka mencurahkan kasih pada buah hatinya?
Wahai malam, beritahu aku cara menuntaskan rindu.
.
.
.
.
Dy. Sepanjang Raha-Kendari, 2 Juni 2015
Komentar