Lebih dari Penantian




Sepanjang waktu yang merekam jejak, kita akan menjadi peretas mimpi hingga akhir masa penantian.

Apa yang tengah kulawan? Di tengah taman berbau kasturi, aroma yang begitu dielukan kita berjibaku melawan kesendirian dan menyelami iman. Bukankah sepi adalah kenikmatan? Dimana diri berjumpa bersama  Yang Haq.

Di sini, perjuangan masih terus berlanjut. Tapi tubuh rubuh berselimut lusuh. Satusatu alasan untuk tinggal mulai berubah menjadi perkara yang telah lama memeram.

Di sini, kuingat kembali katakata yang menjelma sukaduka. Bersama kita menyulam gaun terbaik. Namun, tubuh api yang menyalanyala mengundang nyalakan anjing. Gigigigi runcing tajam siap menakuti.



Kemudian, hanya suara jangkrik dan panggilan menuju rumahnya. Gaung bersahutan seperti bulir keringat yang berjatuhan membasahi topeng. Kudengar pula naskah kabhanti yang pernah kuhapal satu baitnya terapal merdu. Inaina bersenandung. Dengan inikah mesti aku mesra dengan nuansa kekanakkan?

Sebelumnya, kupikir aku cemburu. Lalu aku mencium perlahan tubuhmu. Dan aku masih saja belum menemukan sekutu. Saat kaki benarbenar kokoh menapak dan pelipis sempurna membelai, ucapan selamat tinggal datang mendekat. Menjerumuskan aku pada sebilah papan di sebelah dengan setumpuk dosa penyesalan.
 
Barangkali setia adalah ujian. Seperti kudakuda liar berjalan tenang di alam bebas. Perlahan awan berarak, bawa aku pada suasana penuh tikai yang memaksa menulis dengancermat. Yang mana cinta, yang lain  hasrat belaka.

Tubuhmu kulihat di ribuan lembar kertas. Namamu luas dan sunyi, tapi aku merasa kosong tak berpenghuni.

Kusiap hadapi diri. Hadirkan lagi jibaku dengan diri yang belum selesai selama ini. Lantas, malaikatmalaikat datang mengitari pendopo di atas mula tumbuhan asoka yang berasal dari antah berantah. Mereka membawa sekeranjang puisi yang tak terijabah, yang tak pernah kita cari. Pada bukubuku dalam perjalanan pulang yang tak pernah kita temukan.

Hanya ketiadaan dan kesia-siaan.

...................................
Kendari, 20 April 2015
Dy
.....................................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a