inspire on in (1)
![]() |
| sumber gambar. pinterest |
It's about holiday. Ini tentang liburan. Hari libur. Holi and days? Gitu gak sih? hehehe. (ngarang)
Di Ramadhan yang menyisakan sepekan untuk berbenah dan menyambut hari yang fitri... hawa 'fitri' itu semakin nyata pemirsahhh. H-nya 'tiga harakat' ya. Siswa SD hingga SMA telah menggenggam raport. Di dalamnya tertera angkaangka unik yang berbeda akumulasinya per orang dan menjadi cerita tersendiri untuk si pemilik raport. Selamat bagi yang memegang predikat rengking 1 sampai 3 atau juga harapan 1-3 bahkan favorit. Selamat. Semua naik kelas. Yang bersedih karena ada nilai yang turun gak curam atau turunnya curam banget bahkan sedih karena stagnan, udah nikmati aja. Itu perolehan prestasi selama 6 bulan belajar yang kau sendiri lakoni bukan?
Sementara itu, di sisi lainnya... mereka yang lulus dan berhak naik ke jenjang selanjutnya juga mulai dari SD-SMA (juga TK). Selamat. Bagi yang lulus SMA, dunia lebih menantang menunggu. Yang lulus SNMPTN, SBMPTN; SELAMAT, YA. Yang belum lolos, bisa mencoba jalur mandiri di PTN yang dipilih dan tentu pilih jurusan sesuai peminatan, ya. Jangan karena ikut-ikutan kecuali jika kamu mampu. Bukan merasa mampu. Why? Sebab yang ngejalanin kuliah itu kan kamu sendiri, bukan aku atau dia juga mereka. Emang sih bersama tapi we've permasalahan individu yang berbeda terutama dalam bersikap. So, kuliah itu mudah. Ngejalaninnya juga mudah asal modal. Modal apa? Duit itu tentu. But, lainnya itu kesiapan mental, ilmu, dan lain-lain kudu banget di persiapin sesiap-siapnya biar gak kaget lagi saat sesuatu itu terjadi atau kamu bakal galau besar-besaran. Wkwkwk
Orang beriman apabila menerima kelapangan ia bersyukur
dan bila di timpa
kemalangan ia bersabar sehingga baik baginya.
(H.r.Muslim)
So, keep on fire. Fire. Kita samasama bersemangat untuk hal yang kita inginkan. Butuhkan. Saya pernah merasa galau di awal-awal kuliah. Bukan karena finansial atau lingkungan. Namun, lebih dikejutkan pada program studi yang saya pilih. Jujur saat memilih tiga jurusan yang ada, saya memilih berdasar minat. Dan, pilihan terakhir itu bukan minat melainkan jurang jika kelak saya tidak menyanggupi pilihan ketiga option A dan B.
This my list:
1. Pendidikan Biologi (Fiks)
2. Pendidikan Bahasa Inggris (Fiks)
3.
a. Pendidikan Matematika
b. Pendidikan Kimia
c. Pendidikan Bahasa Indonesia.
Nah, option ke tiga bagian C itu yang tidak saya sanggupi. Entah mengapa, saat sedang merenung tentang sebab-akibat ketika misal di terima satu di satu di antara (kebanyakan di ya :D)... saya memiliki option C sebagai option yang benar-benar akan saya jadikan pilihan. How? Gak tahu. Saya basmallah aja saat itu.
Selain itu, perguruan tinggi yang saya pilih juga mendadak kok. Haha. Dalam suatu percakapan di pekan terakhir Mei 2013.
(1)
"Kak, janganmi ambil Biologi murni. Juga, jangan kuliah di Malang. Kuliah di Kendari saja."
"Unhas, gimana?"
"Kalau bisa Kendarimi saja."
Diam
"Sayangnya mi kalau tes ulang padahal semua udah lolos. Kan..."
"Rezeki tidak kemana. Nanti diuruskan beasiswa."
Diam lagi. Tidak mempan.
(2)
"Bagaimana. Dia maukah kuliah di Kendari?"
"Ndak tahu itu anak. Da belum memilih. Saya kalau bisa janganmi dia di Malang. Di Uncen sama Unipa juga jangan. Sekalianmi da tes KOWAD atau AKPOL kalau memang mau kuliah di sini."
"Kasiannya itu anak. Pintar baru mau jadi begitu. Kas kuliah dia."
"Terserahmi dia."
(3)
"Mama, saya mau kuliah di Kendari."
Do'i bingung.
"Kapal minggu depan. 12 hari lagi."
"Nanti saya pergi mengurus di sekolah. Legalisir dan lain-lain."
"Iya. Mama pesan tiket sebentar."
"Kalau ke Kendari, lewat mana saja?"
"Dari Nabire - Manokwari - Wasior - Sorong - Ternate - Bitung - Bau-bau." (saya tidak mengingat jelas rute yang ditempuh saat menulis tetapi itu adalah rute sesuai yang saya ingat.)
"Berapa lama itu?"
"Lima hari. Alhamdulillah kalau kamu maumi kuliah di sana. Dekatmi sama keluarga."
"Mama, kalau ke sana... Kita menginap dulu di Bau-bau to?"
"Iya, nanti kita menginap di keluarga baru ke Kendari."
"Iya, Mama. Su lama sa ndak ke Baubau ale. Terakhir waktu mau masuk SD."
...
Jadilah saya mengurus segala perlengkapan. Saya yang mabuk laut. Saya yang tidak bisa ini itu tiba-tiba harus menjalani itu ini. Akhirnya, saya (dan mama) sampai di Baubau. Bersamaan, sebuah dialek baru kutemui kembali. Selamat Datang di Pelabuhan Murhum.
Anak-anak yang lucu menyambut saat saya sampai di sebuah rumah bercat biru. Sapaan ramah dan senyum hangat. Well, banyak hal konyol yang saya tanyakan. Mulai dari banyaknya kelor yang di tanam di belakang rumah hingga tiap rumah yang memiliki pohon kelar (haha). Selain itu, arena bau-bau cukup menantang bagi saya pribadi yang takut mengendarai kendaraan di jalanan yang berliku dan mendaki menurun (memacu adrenalin banget). Pasar. Kota tua. Bentor. Dan, masih banyak lagi.
Tak lama di Baubau (cukup lama sebenarnya), awal Juni saya (dan mama) menyebrang melintasi laut sulawesi menuju Kota Madya Kendari. Nah, tiba di sini lebih banyak lagi cerita. Mulai dari banjir, dialek aneka rupa, suasana kota, dan ini Kendari, Diah. Kamu harus menyelesaikan apa yang kamu mulai hari itu juga (Saat kami menginjak kota kendari) dan benar-benar menyelesaikan.
Benar saya gagal menjalani kuliah sesuai minat saya: Biologi. Benar saya gagal melanjutkan kuliah di universitas pilihan saya: UMM. Benar saya tidak mampu melanjutkan mimpi saya tetapi saya harus mendapatkan kembali harapan itu. Harapan yang hancur tetapi harus tetap hidup. Agar sepihannya tak melukai orang lain. Melainkan inspire On in.
Harapan yang hancur tetapi harus tetap hidup. Agar sepihannya tak melukai orang lain. Melainkan inspire On in.
Maka, saya mulai melakukan hal-hal kecil. Saya percaya, saya hari ini adalah saya lima tahun yang akan datang. Meskipun pernah sepanjang 2015 nilai akademik saya benar-benar anjlok, tingkat stress saya meningkat, dan prestasi nihil. Hahaha. Itu bagian lucu. Lucu-lucuan aja.
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (QS.1:1-2)
Qadarullah, semua yang terjadi dapat dijalani. Orang-orang kuat dan hebat di samping saya maupun 'di belakang' saya adalah alasan siapa saya saat ini. Saya masih Diah Anindiah, kok (belum berubah jadi wonder women apalagi power rangers... haaha). Segala ketetapannya adalah ujian yang harus diselesaikan. Apa yang dulu saya takutkan emang jadi bumerang tapi seiring berjalanannya waktu; semua aman terkendali.
Beberapa percakapan kecil yang masih saya ingat.
(1)
"Diah, ikut KTI yuk?"
"Ndak ah. Saya nda tahu apa saya mau tulis. Nda ada sesuai jurusanku."
"Ikut saja. Gabung sama kelompokku. Kamu tahu beres!" (duh... gue kayak gitu jadi pesimis. sejenis parasit banget saiah kalau kayak gitu)
(2)
"Ada LKTI. Ayomi ikut."
"Nda adami jurusanku. Kamumi."
"Sudahmi saya. Ada temanku lagi cari satu tambahan orang. Kamu mau?"
"Tidak deh. Jan sampe sa nda bisa jawab."
(3)
"Terbukami Olimpiade Pertamina. Ko bilang mau ikut to?"
"Iya. Sa mo ikut biologi tapi pasti sa kalah dengan mereka yang kuliah di Biologi. Mundur teratur mi saya."
...
(4)
"Kakak sudah proposal?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Masih mau berkarya." (ini jawabannya beda-beda. Yang deket banget, maksa harus maju. Yang gak deket, dukungnya umpama motor laju gigi 4).
___
Semua berbeda. Dan, saya hanya berusaha merampungkan puingpuing harapan. Bulan lima lalu, seorang kawan di salah satu grup dumay (alhamdulillah beliau adalah senior di organisasi keilmiahan terkece di Indonesia) menawarkan give away. Awalnya saya gak tertarik. Tertarik sih tapi belum mau beli. Saat itu fokus baca buku 'jamaatul muslimin'. Akhirnya, ketika Mei... saya nekat mbeli. Haha. Nekat lagi. Apalagi itu tentang Jepun. Satu Negara di antara sekian negara yang pengennnn banget saya datengin. Entah ngapain di sana (belum tahu).
Seindah Sakura di Langit Nusantara karya Suyoto Rais. Bukunya gak tebal-tebal amat. Namun, muatannya duh... ajib.
Satu part kehidupan pribadi penulis yang klop dengan satu jalan hidup saya adalah perihal harapan. Bagaimana kemudian saya harus mendapatkan kembali harapan yang hancur.
"Tidak ada harapan yang hancur
selain kepercayaan diri yang hancur sebelumnya."
-Suyoto Rais-
Harapan saya adalah menjadi mahasiswa di jurusan X Universitas Y. Qadarullah, Allah izinkan saya menjadi mahasiswa dengan jurusan A di Universitas B. Saya masih dapat menerapkan passion dan potensi saya. Tentu melalui berlembaga. Ngampus gak sekadar kamar kosan dan kampung. Namun, bersosialisasi dan ber-empati serta mendedikasikan potensi untuk orang lain adalah kebermanfaatan yang tak terkira.
Saya menyukai buku tersebut. Masih banyak part lainnya yang saya belum baca. Sekilas, beberapa part 'gue banget' -- insyaAllah akan saya buat resensinya, ya (kalau gak sempat, nanti cerita per part aja)-- hehe.
Sadar bahwa banyaknya hal yang hilang dalam dan dari kehidupan saya selama kurun waktu 4 tahun ini adalah perjuangan untuk terus bertahan agar saya tak berhenti berjuang sebab dilepas atau terlepas sesuatu. Satu jalan menuju sukses dengan benarbenar berjuang dan mendekatkan diri padanya.
Saya ingat... sangat ingat betapa saya tidak suka, tidak ridha, dan tidak tidak tidak terhadap Pendidikan Bahasa Indonesia tetapi Allah miliki cara tersendiri untuk membuat saya suka. Ditemukannya saya pada buku-buku yang memuat kisahseperti saya. Dipertemukannya saya bersama senior-senior jurusan yang 'care' terhadap 'si anak papua'. Diberitahunya 'siapa saja dan apa saja' kehendaknya. Dipertemukannya saya bersama seorang dosen, guru, ustadz, juga adalah seorang penulis yang memberi tahu jalan hidupnya. Bahwa ketika kau tersandung dalam memilih akibat pilihanmu, maka jalani saja. Beliau tersandung dalam jurusan yang dipilih namun itulah yang membawanya hingga saat ini. Who knows akan menjadi apa kita? MAKA nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?
![]() | |
| in Frame Diahasaid - Moramo. |
Maka bersemangat di kondisi yang tidak mudah adalah kelebihan dan kekurangan yang harus dilengkapi. Langit itu terlalu luas untuk semua pemungut rezeki. Berusahalah. Tetapkan pilihan. Keep moving forward.
seorang pembelajar - diahasaid
kendari, 23 Ramadhan 1438H


Komentar